Hutan Senja

“Jangan ke sana!” teriakanku menggema, terdengar seperti suatu hardikan. “Kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan?” Tanyanya tanpa berpaling. Ia tetap saja melangkah dan enggan menoleh. “Tidak, a...

Hutan Senja
Bacakan Artikel

“Jangan ke sana!” teriakanku menggema, terdengar seperti suatu hardikan.

“Kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan?” Tanyanya tanpa berpaling. Ia tetap saja melangkah dan enggan menoleh.

“Tidak, aku tidak pernah menginginkan hal itu! Tolong, berhenti. Kumohon.”

“Terlambat, mungkin suatu saat nanti aku akan mengunjungimu lagi, melalui lagu atau mungkin melalui debu itu sendiri. Dan kau, aku kutuk seperti itu—kabut di matamu.”

[irp]

Siluetnya lamat-lamat menjauh dan semakin jauh menghilang di keremangan hutan senja, hilang dalam kabut. Lalu terdengar suara angin mengabarkan tentang kisah misteri—pemudi patah hatinya, bidadari yang patah sayapnya, bahtera yang hilang kemudinya, ia pergi membawa cita dan cinta, atau tepatnya duka dan luka. Luka-luka dari segala laku-lakuku.

***

Dusun Bajaja, Desa Ulusalu, Kecamatan Latimojong begitu ning, ia berkabung. Puncak dari haru-biru yang pernah terjadi sebelum maupun sesudah kabut. Selasa 6 Oktober 2015, keheningannya dipecah oleh suara-suara berisik.

Pagi masih sangat muda hari itu, telingaku yang sedari tadi mendengar langkah-langkah kaki yang kaku, kontan membelalakkan mata. Kantukku terusik dan terusir. Tetapi mataku masih berkabut, ia masih setia bergelayut manja di sudut-sudutnya, sisa dari kutukan kemarin. Kabut yang senantiasa membuat mataku perih, memerah dan meneteskan kerikil-kerikil tajam. Kabut yang membuat hidungku melumerkan ingus, yang mungkin dua-tiga hari lagi akan terjangkiti ISPA.

Langkah kaki-kaki kaku itu berasal dari posko I rute pendakian. 2 meter dari rumahku. Warna seragam mereka begitu kontras. Mereka terdiri dari beberapa tim. Satu, dua, tiga ..., aku menghitung jumlah mereka, kurang lebihnya ada lima tim. Ada yang berseragam orange, ada pula yang berseragam loreng, ada lagi yang sepertinya kelompok relawan—mukanya bopeng-bopeng.

[irp]

“Hutan itu bertuan, yang masuk ke sana tidak akan selamat!” suara Ibu terdengar mengancam para gerombolan manusia itu.

“Kami tidak akan semberono dan merusak apa pun, Bu. Kami sudah sesuai prosedur. Kami tidak akan merusak dan mengambil apa pun. Tidak juga ada yang membawa bekal daging dan telur ke dalam sana,” Jawab salah satu komandan tim itu. Di baju seragam yang menutupi dada bidangnya bertengger satu tulisan, ‘Andi Mudzakkar’.

“Yakin?”  Ibu kini menimpali penjelasan kepala tim itu dengan santai, nyaris tanpa ekspresi.

“Kami telah membawa pemandu lokal yang paham betul kawasan ini, Bu. Sebagai juru kunci, tolong bukakan mata kami, kami hanya meminta agar seluruh tim sampai pada posko DVI dengan selamat dan lancar.”

“Apa untungnya buat saya?” suara Ibu terdengar ingin mencari-cari celah—keuntungan barangkali.

“Kami hanya memohon kerja samanya, Ibu Nurani. Di sana ada sesuatu yang menunggu kedatangan kami menjemputnya.”

“Tunggu, saya pi....”

“Aku bisa memandu kalian lewat mata batin, tetapi kalian harus janji membawa Avia pulang,” kataku memotong kalimat ibu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: