Falsafah Gulma, Tanaman yang Dilabeli Pengganggu Tanaman Lain

Klikhijau.com - Ruang dan waktu selalu memberi aksioma hidup yang menyejarah. Setidaknya ia hadir dan diadakan dalam realitas kehidupan. Itu pula yang mengilhami ketika kita mengapresiasi kehadiran sa...

Falsafah Gulma, Tanaman yang Dilabeli Pengganggu Tanaman Lain
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Spirit itu diamati oleh Syamsuddin Simmau. Ia menuliskan, kadang sebuah keputusan hebat sulit diambil karena ada bunga-bunga gulma yang tampak menggoda.

Namun tidak sampai disitu, sosiolog ini memberi narasi tambahan. "Keputusan hebat itu harus tetap diambil meskipun terasa pahit. Rona kehadiran gulma, membuat keputusan hebat butuh perjuangan, kerja keras, dan tekad pantang menyerah."

Lalu, seperti apa gulma dalam alam pikir pengetahuan pertanian. Ali Said punya penjelasan lugas. Menurutnya, secara terminologi budidaya tanaman liar dinamai gulma.

Alumnus pertanian ini menjabarkan. Mengapa disebut demikian, gulma tumbuh sebagai tanaman yang liar karena tumbuh dengan sendirinya. Ia tak dipedulikan di antara tanaman yang dilabeli sebagai komoditi.

Gulma menjadi satu misteri atas kehadirannya untuk hidup diantara tanaman lain. Pertanyaan filosofis pun diajukan oleh mantan aktivis Unhas ini. "Salah satu yang tidak pernah dipertanyakan hanya oleh ilmu pengetahuan adalah atas alasan apa sesuatu yang disebut gulma/tumbuhan liar berada di tempat tumbuhnya ?"

Ahmad Said ikut memberi pijakan eskatologis pada gulma. "Pongah sekali manusia modern ini, justru karena ketidaktahuannya melabeli sekelompok tumbuhan ini sebagai liar atau radikal."

Dan atas nama ilmu pengetahuan itu, menurutnya, mereka mengambil tindakan eradikasi dan dalam masa tertentu, dapat memusnahkan beberapa jenis plasma Nutfah.

Bersama dengan itu ia pun ikut melancarkan kritik atas hegemoni ilmu pengetahuan.

"Tanpa disadari ilmu pengetahuan menjadi alat penindasan, bahkan terhadap makhluk Tuhan yang bernama gulma. Degradasi ekosistem yang berimplikasi pada terjadi disharmoni antara manusia dengan alam, dan antar manusia itu sendiri berawal dari cara berpikir egosentrisme yang kapitalistik."

Manusia modern diamatinya, telah kehilangan kearifan dan keterhubungannya dengan semesta sebagai sesama makhluk hidup. Ia pun menimpali, "Amanah sebagai pemimpin seluruh makhluk di muka bumi (khalifah) telah disalahpahami dan majalah berperilaku sebagai monster dengan segala teknologi yang dimiliki manusia.

Sekelumit pendar hidup gulma, pantas untuk direnungkan. Sebagian habitus gulma atau sepenggal perjalanan hidupnya bagai melucuti pikiran manusia yang kosong.

Betapa pun itu geliat alam sadar manusia yang diolah dengan susah payah itu berarti melipatgandakan pengetahuan baru sambil melatih perasaan berempati. Termasuk makhluk Tuhan bernama' Gulma'.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2