Klikhijau.com – Dokumenter yang dibuat oleh Dona Rahayu yang mendokumentasikan Perjuangan Perempuan Nelayan Jeneponto menghadapi tantangan rusaknya wilayah pesisir yang menjadi lahan menebar rumput laut yang juga menjadi persemaian harapan penghidupan.
Ditengah antusias para tamu Pesta Rakyat Pesisir Jeneponto yang didorong oleh Bina Desa bersama Komunitas Perempuan Nelayan Sipitangarri (KPNS), menyeruak emosional menyaksikan potret Perempuan nelayan yang menjadi objek dampak kerusakan wilayah pesisir yang mereka jaga sedari nenek moyangnya.
Bagi perempuan nelayan, rumput laut menjadi sumber mata pencaharian sekaligus bagian tatanan sosial dan budaya. Perempuan nelayan mengalokasikan 70%- 90% waktu dalam kesehariannya untuk terlibat pada proses produksi dan reproduksi.
Akan tetapi, jumlah produksi rumput laut yang menjadi tumpuan sekitar 90% rumah tangga masyarakat pesisir Jeneponto terus menurun. Sering kali mereka mengalami gagal panen karena batang rumput laut berguguran. Hal itu disebabkan oleh pembuangan limbah tambak udang oleh kedua perusahaan yang mana mengandung bahan beracun, seperti amoniak dan klorin.
Kondisi tersebut menyebabkan perempuan nelayan semakin resah diperhadapkan pada ancaman nyata dari aktivitas perusahaan tambak udang skala besar. Di Kecamatan Arungkeke, yakni PT Sinar Sukses Persada dan CV Harjo Anugerah Sejahtera yang mana keduanya sudah lebih dari 3 tahun berproduksi.
Berdasarkan hasil riset tim Bina Desa kedua perusahaan tersebut berkontribusi atas terjadinya gagal panen rumput laut para nelayan.
Refleksi Potret Rusaknya Pesisir oleh Limbah Tambak
Setelah menyaksikan film documenter yang berlangsung di Dusun Lassang – Lassang Desa Arungkeke, ketua KPNS, Kasmawati dalam refleksinya, menegaskan betapa nasib Perempuan memikul beban ganda, selain masih belum menemukan ketidak adilan juga mesti diperhadapkan dengan tantangan rusaknya sumber kedaulatan pangan pesisir khususnya rumput laut sebagai komoditi unggulan.
Tak hanya itu, kerusakan lain turut mengikuti dengan semakin berkurangnya hasil laut, seperti ikan dan kepiting.
Searah yang dikemukakan salah satu nelayan yang terdampak langsung, Sukri Daeng Bella, mengungkapkan kondisi limbah yang ada di desa Palajau, Kecamatan Arungkeke.
“Sebagai nelayan yang lokasinya saya ada di muara tambak itu, selama ada tambak itu banyak yang mengalami kerugian, saya sering bertanya-tanya dan jawabannya tidak ada lain dugaan mengarah ke tambak itulah yang merusak,” ujar warga desa tetangga Arungkeke.

Suara lirih penuh semangat menggugah para audience untuk turut menguatkan solidaritas dalam memperjuangkan ruang hidup nelayan.
“Maka saya minta tolong agar mengkritik keberadaan tambak itu, agar laut biru kita bisa kembali,” tuturnya dengan nada penuh harap.
Gagal panen rumput laut memiliki dampak sosial ekonomi yang signifikan, terutama bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada budidaya komoditas ini.
Secara sosial, gagal panen dapat memicu peningkatan kemiskinan dan kerentanan ekonomi di kalangan petani rumput laut. Mereka akan kehilangan satu-satunya sumber pendapatan utama, yang berdampak langsung pada kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan anak, dan kesehatan.
Kondisi ini sering kali menimbulkan tekanan psikologis dan sosial, termasuk peningkatan angka migrasi ke kota untuk mencari pekerjaan alternatif, yang bisa memicu masalah sosial baru. Selain itu, ketergantungan pada satu komoditas membuat masyarakat menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi pasar dan bencana alam, yang pada akhirnya melemahkan ketahanan komunitas secara keseluruhan.
Secara ekonomi, dampak dari gagal panen rumput laut merambat jauh melampaui tingkat petani. Produksi rumput laut yang menurun drastis akan mengganggu rantai pasok industri yang menggunakannya sebagai bahan baku, seperti industri makanan, farmasi, dan kosmetik.
Pasokan yang terbatas menyebabkan harga rumput laut di pasaran melonjak, yang pada gilirannya meningkatkan biaya produksi bagi industri terkait. Dampak ini dapat mengakibatkan PHK atau bahkan penutupan usaha, yang menambah beban ekonomi dan pengangguran.
Lebih jauh lagi, bagi negara yang merupakan eksportir besar, gagal panen rumput laut dapat menurunkan devisa negara dan melemahkan neraca perdagangan.
Kerugian ekonomi ini bersifat multidimensional, dimulai dari hilangnya pendapatan individu hingga kerugian makroekonomi yang lebih luas, menunjukkan betapa pentingnya sektor rumput laut dalam ekosistem ekonomi lokal dan nasional.
Dona Rahayu dari unit media Bina Desa sebagai sosok dibalik hadirnya documenter tersebut, mengungkap hasil riset yang ia lakukan pada 2023 lalu.
“Rumput laut menjadi salah satu komoditas unggulan yang menopang perekonomian masyarakat pesisir Kabupaten Jeneponto, Pada tahun 2023 rumput laut mnjadi penyumbang dana yang cukup besar, kemudian di tahun 2024 hasil menunjukkan menurun dan merosotnya hasil rumput laut,” bebernya.
Menurutnya dari desa Palajau hingga Pandang-Pandang, hasil riset memperlihatkan bahwa mereka mengalami penurunan hasil panen, dan imbasnya banyak warga yang meninggalkan kampung untuk melanjutkan hidup.
“Kalau diperhatikan tidak ada masalah keberadaan industry tambak namun yang menjadi soal mereka masuk tidak melakukan sosialisasi, atas keberadaannya di desa tersebut dan kami menduga mereka tidak menjalankan SOP yang ada, tidak ada informasi ke masyarakat tentang jadwal pembuangan limbah, sehingga warga yang telah membentangkan tali untuk rumput laut itu bablas gagal panen,” jelas Dona.
Dari potret dalam vidio dokumenter fakta lapangan mereka (PT Sinar Sukses Persada dan CV Harjo Anugerah Sejahtera) tidak profesional mengelola limbah, dan hasil wawancara lapangan warga semua mengeluh, sempat di mediasi pihak pemerintah desa namun hasilnya hanya berjalann seminggu.
“Rumput laut kena air hujan saja bisa rusak apalagi dengan air limbah,” pungkasnya menegaskan betapa rumput laut begitu perlu untuk diperhatikan untuk memperoleh hasil yang berkualitas.
Kerusakan Pesisir Masalah Bersama
Sosok muda progressif yang berada di Tengah kerumunan, Sri Puswandi, ketua Dana Mitra Tani (DMT) Bulukumba, menekankan Kembali bahwa kita melihat kerusakan dan tentu sangat berdampak khususnya perempuan, itulah yang digambarkan dalam documter.
“Bicara laut dalam skop sulsel saat ini hampir semua pesisir itu menjadi kegelisahan bersama, karena dampaknya menimpa para nelayan kita, tidak hanya di Jeneponto saja, tapi juga di Kabupaten lain yang pemicunya hamper sama, ada korporasi yang ugal-ugalan meremehkan dampak lingkungan yang melebar ke dampak kesejahteraan masyarakat pesisir, dan mengingat Bulukumba juga sedang diintai masalah pesisir dengan akan dibangunnya industri pupuk di wilayah pesisir, yang katanya kota cantik kaya wisata Bahari namun berada dalam bayangan industry,” jelas aktifis yang aktif mendampingi Masyarakat desa khususnya petani di area DAS Balantieng.
Dengan lantang dirinyam atas nama Lembaga, menegaskan dan menyerukan komitmen untuk mendukung perjuangan penyelamatan wilayah pesisir.
“Masalah di Arungkeke dan sekitarnya ini bukan hanya masalah warg di sini tapi masalah kita bersama, kami mendukung perjuangan ini, mari kita sama sama berjuang,” tegasnya dengan lantang.








