Keteguhan Perempuan Pulau Pari Menjaga Ruang Hidup

Klikhijau.com - Keteguhan sebagai salah satu mutiara wisata Jakarta, Pulau Pari justru menyimpan kisah getir warganya. Selama lebih dari satu dekade, mereka harus berhadapan dengan perusahaan yang men...

Keteguhan Perempuan Pulau Pari Menjaga Ruang Hidup
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Keteguhan sebagai salah satu mutiara wisata Jakarta, Pulau Pari justru menyimpan kisah getir warganya. Selama lebih dari satu dekade, mereka harus berhadapan dengan perusahaan yang mengklaim kepemilikan atas hampir seluruh tanah pulau. Padahal pulau kecil di Kepulauan Seribu ini adalah ruang hidup yang diwariskan turun-temurun.

Dari konflik inilah lahir sebuah gerakan perlawanan, dengan perempuan sebagai penopang utama. Melalui Kelompok Perempuan Pulau Pari, mereka berdiri sebagai pagar betis di garda depan, melawan penggusuran, sekaligus menggerakkan ekonomi warga agar tetap bertahan di tanah leluhur mereka.

Dari Konflik ke Solidaritas

Ketegangan semakin terasa ketika klaim perusahaan atas lahan Pulau Pari berhadapan langsung dengan penolakan warga, hingga melibatkan aparat. Beberapa tokoh warga bahkan sempat mengalami kriminalisasi dalam konflik ini, hingga harus berhadapan dengan proses hukum yang melelahkan.

Ati Sukamti, salah satu perempuan yang sejak awal aktif di kelompok warga, mengingat jelas momen mencekam itu. “Kami perempuan berdiri di pagar depan, menghadang aparat yang ingin mengukur lahan. Ada rasa takut, tapi kalau kami diam saja, pulau ini bisa hilang,” ujarnya.

Dari ketegangan itulah lahir Kelompok Perempuan Pulau Pari. Mereka sadar, hanya dengan bersatu mereka bisa melawan.

Pagar Betis, Kebun, dan Dapur

Mereka juga membuka jalan ke wilayah-wilayah yang hendak diklaim perusahaan dengan cara yang arif: menanami lahan kosong, membuka kebun, dan menjaga pantai agar tetap hidup sebagai ruang publik.

Di dapur, kreativitas mereka memegang peranan penting yang sama dengan perjuangan di garis depan. Rumput laut diolah menjadi dodol dan manisan (tangkue), ikan asin dijadikan hasil olahan andalan, hingga makanan tradisional dari bahan lokal seperti blencong (keong sawah) dan umbi kecundang (suweg) yang bisa dijadikan obat tradisional sekaligus pangan alternatif.

[caption id="attachment_34131" align="alignnone" width="520"] Hasil olahan andalan kelompk perempuan pulau Pari: Ikan asin )berwarna cokelat) dan manisan rumput laut (berwarna hijau) - Foto: Ist[/caption]

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2