Dokter Reisa, Edhy Prabowo, dan Stunting

Klikhijau.com – Stunting atau pendek atau kerdil menjadi permasalahan global, termasuk di Indonesia. Penyebab utama  adalah karena gizi. Kenapa stunting menjadi masalah, itu karena  berhubungan den...

Dokter  Reisa,  Edhy Prabowo, dan Stunting
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Global Health survei 2015 menunjukkan, penyebabnya antara lain remaja jarang sarapan, 93 persen kurang makan serat sayur buah. Ditambah angka pernikahan remaja di Indonesia tinggi, padahal hal ini berkontribusi pada kejadian stunting.

Dokter Reisa dan stunting

Eks juru bicara Covid -19 dr Reisa Broto Asmoro menyarankan agar sekolah memasukkan materi edukasi stunting dan gizi ke dalam kurikulum.

Ia  bahkan menilai jika Indonesia telah masuk zona darurat stunting. Karenanya, dibutuhkan   gerakan yang nyata. Gerakan  yang bisa mengubah kondisi tersebut.

“Kondisi anak sudah stunting tidak bisa berubah, yang penting bagaimana kita harus menyelamatkan generasi setelahnya,” harapnya.

Bagi dr Reisa, edukasi di usia remaja, sejak usia 10-19 tahun adalah masa krusial. Harus tepat informasinya. Apalagi Indonesia kebanyakan mitosnya yang belum tentu benar tapi lebih dipercaya. Takutnya info yang kurang tepat akan mereka bawa terus sampai nanti punya anak.

“Kalau masa remaja enggak dapat ilmu, akan sulit untuk membangun keluarga berkualitas. Indonesia adalah negara emergency terhadap stunting. Kita harus mulai berubah. Stunting adalah kondisi yang tidak bisa balik lagi. Makanya selamatkan generasi setelahnya,” tambahnya.

Ia juga berpendapat bahwa perlu mengintervensi gizi remaja dan mengedukasi mereka agar punya persiapan sebelum akhirnya menjadi orang tua nantinya.

 Perlu konsumsi ikan

Sedangkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo punya solusi lain untuk mencegah stunting. Caranya, dengan banyak mengonsumsi ikan.

"Dari sekian banyak sumber pangan yang ada, ikan merupakan sumber protein hewani yang sangat tepat untuk mendukung program perbaikan gizi masyarakat dan penanganan stunting," katanya beberapa waktu lalu.

Kenapa pula harus ikan? Itu karena ikan mengandung banyak nutrisi yang penting bagi tubuh. Di antaranya vitamin A, D, B12, kalsium, zinc, protein hingga omega-3.

Kandungan gizi pada ikan juga berperan penting bagi ibu hamil, 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), perkembangan otak anak-anak di bawah usia dua tahun (Baduta), usia remaja serta lanjut usia.

"Stunting perlu ditangani dengan baik untuk mencegah lost generation di masa mendatang, apalagi kita akan menghadapi bonus demografi," tegas Edhy seperti dikutip dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Berdasarkan data, angka konsumsi ikan nasional pada 2019 mencapai 54,49 kg/kilogram atau naik 4 persen dari tahun sebelumnya. Sementara permasalahan gizi di masyarakat masih tinggi, di mana 30,8 persennya di antaranya adalah masalah stunting berdasarkan data dari Rikesdas, 2018.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2