Dear Para Pemaku Pohon, Kalian Membunuh Masa Depan!

Klikhijau.com – Pemilu 2024 sudah dekat. Bulan-bulan terakhir ini, pepohonan jadi sasaran para politikus. Di sepanjang jalan, poster-poster dengan ragam ukuran menempel erat di pepohonan. Sebagian bes...

Dear Para Pemaku Pohon, Kalian Membunuh Masa Depan!
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Pemilu 2024 sudah dekat. Bulan-bulan terakhir ini, pepohonan jadi sasaran para politikus. Di sepanjang jalan, poster-poster dengan ragam ukuran menempel erat di pepohonan. Sebagian besarnya terpasang karena paku. Yah, mereka memaku pepohonan—melukai.

Paradoks

Ini tentu paradoks. Apa sebab? Pertama, mereka mengklaim diri sebagai calon pemimpin yang akan merepresentasi suara rakyat di parlemen. Kedua, mereka (sebagian besarnya) adalah kalangan terdidik dan terbilang tokoh. Ketiga, mereka sekonyong-konyong memberi harapan dan menawarkan perubahan.

Untuk ketiga hal tersebut, mengapa mereka melukai pohon?

Sebagai pemerhati lingkungan, melihat pohon dipaku sungguh miris. Menyedihkan! Kami terheran-heran: “apakah mereka lupa bahwa pepohonan juga makhluk hidup?” Melukai pohon berarti merusak satu bagian penting dalam kehidupan.

Melukai pohon berarti membunuh masa depan dan menyakiti ciptaanNya. Politikus sejatinya punya kualitas mendengarkan dan kedalaman empati, termasuk pada pepohonan.

Pohon-pohon memang bukanlah voters dalam demokrasi, tetapi pohon adalah stakeholders, lebih tepatnya speechless stakeholders. Pohon itu hidup, ia berbicara dengan bahasanya sendiri. Bila ia terluka atau terganggu oleh sesuatu, pertumbuhannya menjadi terhambat bahkan mati.

Bila pohon mati atau dirundung sakit karena dipaku, apa tak berlebihan kita disebut pembunuh? Pohon memberi oksigen untuk bernapas dan menangkap karbon dioksida agar tak melulu berkumpul di atmosfer. Pohon memberi kebaikan sepanjang hidupnya.

Bahkan dalam kesunyian, pepohonan memberi kebaikan tanpa pamrih. Cobalah berhenti sejenak di sebuah pepohonan dan mengajaknya berbincang. Peluklah tubuhnya yang hebat dan tabah. Sebagai manusia yang berakal, saya yakin kita dapat merasakan getaran jiwa yang hidup darinya.

Satu pohon dapat memberi ketersediaan oksigen untuk sekira 5 orang, maka merusaknya sama dengan merampas hak hidup sehat banyak orang. Pada puluhan pohon yang terus dipaku, jelas satu Tindakan yang tak berperikemanusiaan bukan?

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2