Coastal and Small Islands People Summit 2024: Suara Masyarakat Sipil dari Kawasan Timur Indonesia

Klikhijau.coom - Organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Jaring Nusa menyelenggarakan pertemuan tahunan ketiga Coastal and Small Islands People Summit 2024 di Kawasan Timur Indonesia. Pert...

Coastal and Small Islands People Summit 2024: Suara Masyarakat Sipil dari Kawasan Timur Indonesia
Bacakan Artikel

Klikhijau.coom - Organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Jaring Nusa menyelenggarakan pertemuan tahunan ketiga Coastal and Small Islands People Summit 2024 di Kawasan Timur Indonesia.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk memperjuangkan pengakuan dan perlindungan wilayah pesisir, laut, serta pulau-pulau kecil, yang selama ini diabaikan. Momentum ini diwarnai dengan pernyataan sikap yang ditujukan kepada pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintahan Sebelumnya
Selama satu dekade terakhir, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap abai dalam melindungi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Menurut Jaring Nusa, Jokowi justru membuka jalan bagi investasi besar yang seringkali merugikan hak-hak masyarakat di wilayah tersebut. Regulasi yang dihasilkan selama pemerintahannya tidak hanya menjadi ancaman bagi ekosistem, namun juga meningkatkan risiko bencana ekologis akibat eksploitasi sumber daya alam secara masif.

Asmar Exwar, Dinamisator Jaring Nusa, menyatakan bahwa pemerintahan ke depan harus mengeluarkan kebijakan yang serius dalam memberikan jaminan terhadap masyarakat pesisir dan wilayah adat yang terancam oleh krisis iklim dan kebijakan pembangunan yang tak berpihak. Ia juga menegaskan pentingnya pendekatan adil dalam pengelolaan wilayah pesisir untuk meminimalisir ancaman bencana ekologis.

Kearifan Lokal sebagai Solusi
Sementara itu, Gadri R. Attamimi dari Yayasan EcoNusa menyoroti pentingnya melindungi keanekaragaman hayati di Indonesia Timur, yang ia sebut sebagai benteng terakhir negara ini.

"Kearifan lokal, harus dihidupkan kembali sebagai tameng terhadap kerusakan ekosistem, dan pemerintah pusat serta daerah diharapkan mampu bekerja sama merumuskan kebijakan yang melindungi kekayaan alam tanpa tumpang tindih," sambungnya.

Menghentikan Proyek-Proyek Ekstraktif
Pemerintahan baru juga diminta untuk menghentikan proyek-proyek ekstraktif yang selama ini merusak lingkungan pesisir, seperti penambangan pasir laut dan reklamasi pantai.

Manajer Kampanye Pesisir dan Pulau Kecil WALHI Nasional, Parid Ridwanuddin, menekankan pentingnya mengutamakan keadilan ekologis dan iklim serta menghentikan total proyek-proyek yang merugikan masyarakat pesisir.

Sikap serupa disuarakan oleh Faizal Ratuela, Direktur WALHI Maluku Utara. Ia menegaskan bahwa kebijakan pemerintah selama ini telah gagal memberikan keadilan bagi masyarakat kepulauan di Kawasan Timur Indonesia. Proyek-proyek yang disebut sebagai solusi pengentasan kemiskinan hanya menguntungkan segelintir oligarki, sementara masyarakat semakin rentan terhadap bencana alam.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2