Cara Penyair Menginspirasi Kita Mencintai Lingkungan

oleh -1,308 kali dilihat
Cara Penyair Menginspirasi Kita Mencintai Lingkungan
Ilustrasi - Foto: Ist

Judul Buku: Citra Lingkungan Hidup dan Kehati dalam Puisi-puisi Indonesia Modern
Penulis : Indra Jaya Nauman
Editor: Sjamsu Dradjad, SS
Penerbit: Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan: April, 2002
Tebal: xv + 176 halaman
Ukuran: 14 x 20 cm

 

Klikhijau.com – Bagaimana cara penyair menginspirasi kita mencintai lingkungan? Tentu melalui karya-karyanya. Selain itu, penyair juga dapat terlibat dalam aksi-aksi lingkungan secara nyata.

Di tangan para sastrawan, lingkungan hidup menjadi inspirasi mereka dalam menciptakan karya-karyanya, baik dalam bentuk prosa maupun puisi. Dalam konteks religius, lingkungan hidup menjadi tema-tema puisi untuk mengagungkan kebesaran Tuhan yang menciptakan alam semesta.

Bukan hanya itu, di tangan para sastrawan, lingkungan hidup juga menjadi ruang kritik terhadap ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alam. Akibatnya, alam hancur dan rusak.

Banjir, tanah longsor, dan bencana alam yang lain menjadi bukti bahwa kemurkaan alam terhadap manusia yang terkadang mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Dalam konteks ini, puisi-puisi diciptakan sebagai kritik sosial, baik terhadap pemimpin maupun umat manusia pada umumnya.

KLIK INI:  Membaca Pesan dalam Trilogi Buku "Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim"
Penyair mencintai lingkungan

Buku ini berisi sekumpulan puisi dari para sastrawan Indonesia, yang digolongkan sebagai sastrawan modern, dengan tema-tema lingkungan hidup.

Di mata sastrawan-sastrawan seperti, Abdul Hadi WM, Agnes Arswendo, Ajip Rosidi, Chairil Anwar, Zawawi Imron, F. Rahardi, Kirdjomulyo, Landung Simatupang, atau Sapardi Djoko Damono, lingkungan hidup digubah menjadi untaian bait-bait puisi yang indah dan mencerahkan.

Melalui puisi-puisi dalam buku ini, para sastrawan tersebut ingin mengingatkan bahwa lingkungan hidup penting untuk dijaga karena kerusakan alam akan berakibat buruk pada kehidupan manusia.

Lima bab dalam buku ini dibahas sesuai dengan puisi yang berhubungan dengan tema lingkungan tertentu. Bab I berisi pendahuluan atau uraian singkat tentang hubungan puisi dan lingkungan hidup (h.1).

Bab II membahas tentang lingkungan hidup sebagai atribut dan tema puisi (h. 11-38). Bab III menghadirkan puisi-puisi tentang lingkungan hidup (h. 69-79).

Bab IV menghadirkan pembahasan tentang sikap penyair, tentunya dianalisis lewat puisi (h. 89-97). Bab V menghadirkan puisi-puisi lingkungan hidup dalam konteks penciptaannya (h. 113).

Melihat tema-tema yang dibahas, buku ini cukup lengkap apalagi menghadirkan 46 sastrawan dengan puisi-puisi tentang lingkungan hidup.

Bagi Anda pecinta kajian sastra, penting kiranya untuk membaca buku ini. Jika Anda menyukai dan ingin fokus mempelajari puisi tentang lingkungan hidup, buku ini tepat untuk dijadikan rujukan.

Dengan menghubungkan langsung antara puisi dan sikap sastrawannya terhadap lingkungan, Anda dapat mudah untuk mempelajari jika ingin menulis puisi bertema lingkungan.

KLIK INI:  Rob Greenfield, Aktivis Lingkungan yang Menanam Sendiri Keperluan Makannya Sehari-hari
Masih Aktual

Pesan terpenting dari buku ini adalah manusia diingatkan akan kerusakan lingkungan dan itu cenderung disengaja oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan pribadi dari lingkungan, seperti hutan, pohon, sungai, atau laut.

Buktinya adalah banjir dan tanah longsor yang masih sering terjadi di beberapa daerah di negeri ini. Dengan demikian, buku ini masih relevan, bahkan masih aktual. Oleh karena itu pula, buku ini layak untuk dikaji.

Sebuah puisi karya Yudhistira ANM Massardi yang berjudul “Sungai Menangis” mencerminkan masih aktualnya tema lingkungan hidup sekarang ini.

Judul “Sungai Menangis” merupakan metafora terhadap bencana banjir yang terjadi. Puisi tersebut berbunyi:

Sungai menangis di celah batu
Gemericik kehilangan lagu
Aku terperangkap di pusar arus
Mata air pun membisu
Aku berenang
Aku berenang dan lelap tenggelam
(Tangan yang basa menyeretku ke hulu
Di sana segala duka membeku)
“Kami tak lagi terbendung
Telah Kau dengan tangis anak-anak kami
Di hilir….”
Suara itu dari sumber sangat dalam
Aku terpaku
__ Air pun cepat pasang
Anak-anak sungai yang lapar
Menelan segala
Menelan segala

Puisi di atas menggambarkan sungai yang sabar dan lembut, sebenarnya sedang marah karena diperlakukan secara semena-mena. Meski demikian, Massardi memberi judul puisinya dengan “Sungai Menangis”.

Pemilihan kata “menangis” merupakan sindiran secara halus, sebab ulah manusia yang suka menggunduli hutan atau membuang sampah sembarangan.

Bahwa seperti orang yang marah, jika tidak kuat mereka akan menangis yang berarti pula “mengamuk” atau membalas dendam. Demikian pula dengan sungai yang disakiti, tentu akan “marah” dengan menangis yang berarti banjir.

Puisi Sapardi Djoko Damono di bawah ini juga masih aktual. Puisi berjudul “Hujan, Jalak, dan Pohon Jambu” itu menyindir sikap manusia yang cenderung mengagungkan ilmu dan teori ilmiah, tetapi justru menyebabkan lingkungan hidup rusak.

KLIK INI:  5 Ide Perayaan Natal Ramah Lingkungan, yang Terakhir Paling Memukau!

Hujan turun semalaman. Paginya
Jalak berkicau dan daun jambu bersemi:
Mereka tak mengenal gurindam
Dan peribahasa, tapi menghayati
Adat kita yang purba,
Tahu kapan harus berbuat sesuatu
Agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
Tidak pernah bisa menguraikan
Hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu kapan harus berbuat
Sesuatu, agar kita
Merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

Puisi di atas mencerminkan bagaimana leluhur lebih memahami hukum alam dibandingkan dengan manusia modern.

Pemakaian metafor burung jalak dan daun jambu merupakan sindiran kepada manusia agar seharusnya lebih memahami alam, tidak seperti halnya burung jalak dan daun jambu. (Yusuf Efendi/Res/74/07-2011).

KLIK INI:  Perspektif Alam dalam Novel Ayu Utami: Apakah Keindahan Perlu Dinamai?