Benarkah Akses Penduduk Perkotaan ke Ruang Hijau Semakin Berkurang?

oleh -28 kali dilihat
Pemerintah Nagan Raya Bakal Bangun RTH untuk Wisata Islami
Ruang terbuka hijau sebuah kota/foto-kampusundip.com

Klikhijau.com – Manusia dan alam, dua hal yang sebenarnya tak bisa dipisahkan. Hanya saja, alam akan baik-baik saja tanpa manusia. Sedangkan manusia tidak akan bisa tanpa alam. Sumber kehidupan manusia berasal dari alam.

Karenanya sudah seharusnya manusia tidak mengambil jarak dengan memunggungi alam. Manusia harus berenteraksi dan menyatu dengan alam, manusia harus bersahabat dengannya.

Saat ini ruang terbuka hijau, khususnya di daerah perkotaan semakin sempit. Populasi penghuni kota diproyeksi akan semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Perkembangan populasi yang menghuni daerah perkotaan akan membuat ukuran kota akan semakin bertambah. Itu artinya  ruang hijau, termasuk sisa kawasan alami, cagar alam , dan taman kota, akan semakin mendapat tekanan dari aktivitas manusia.

KLIK INI:  Tak Boleh Ada Bunga Mati dan Taman Kota yang Gersang di Makassar

Tekanan tersebut akan membuat alam penting akan terusik. Padahal penting untuk melestarikan keanekaragaman hayati ekosistem dan menyediakan layanan seperti pengelolaan air hujan dan pengurangan panas.

Karena itu, ketika orang memanfaatkan ruang hijau, mereka dapat mempengaruhi fungsi tersebut, misalnya dengan mengganggu satwa liar dan membuat jalur baru yang kemudian mengalami erosi.

Sementara itu, lebih dekat dengan alam membawa banyak manfaat, di antaranya mengurangi stres, meningkatkan kesehatan mental, dan meningkatkan mood. Jadi, posisi ini menempatkan manusia pada buah simalakama yang serba salah.

Akses ke taman penting

Para peneliti dari University of Toronto dan Conservation Halton mengatakan bahwa  akses ke taman penting bagi penduduk kota untuk rekreasi, berhubungan dengan alam, dan sosialisasi, tetapi sulit untuk memahami bagaimana orang menggunakan ruang hijau ini.

KLIK INI:  2 Hal Unik di Sepanjang Jalan Cagar Alam Karaenta, Maros

Sementara itu jurnal Frontiers in Ecology and the Environment belum lama ini mempublikasikan hasil penelitian yang dipimpin Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Integratif Jerman.

Para peneliti berangkat untuk memeriksa tren dalam hubungan manusia-alam dengan melakukan tinjauan sistematis. Mereka menemukan bahwa sangat sedikit bukti empiris yang tersedia untuk dipelajari.

“Penghancuran dan degradasi sistem alam yang sedang berlangsung, bersama dengan hilangnya keanekaragaman hayati. Sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia,” tulis para peneliti.

Menurut para peneliti untuk mengurangi dampak manusia terhadap keanekaragaman hayati global. Minat untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap masalah lingkungan dan mempromosikan perilaku pro-lingkungan semakin meningkat.

“Di antara faktor-faktor ini, ‘pengalaman alam’ (EoN) diketahui memengaruhi nilai dan sikap manusia dengan memperkuat hubungan psikologis dan emosional individu dengan alam. Misalnya, tingkat EoN yang tinggi di masa kanak-kanak dengan kuat membentuk pengetahuan orang tentang, nilai-nilai, dan keterikatan emosional dengan alam.”

Mencoba melacak jarak manusia dan alam
KLIK INI:  Sampah Plastik di Laut, Komponen Kunci Merancang Farmasi

Tim ingin menganalisis seberapa besar jarak antara manusia dan alam telah berubah dalam dekade terakhir. Untuk menyelidikinya, para ilmuwan mengukur jarak rata-rata dari rumah seseorang ke area alami terdekat dengan dampak manusia yang rendah.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa manusia saat ini hidup rata-rata 9,7 kilometer jauhnya dari kawasan alam, tujuh persen lebih jauh dibandingkan tahun 2000. Jarak rata-rata terbesar antara manusia dan kawasan alam ditemukan di Eropa dan Asia Timur, termasuk 22 kilometer. di Jerman dan 16 kilometer di Prancis.

“Yang mengejutkan adalah semua negara lain di dunia mengikuti pola yang sama,” kata penulis pertama studi Dr. Victor Cazalis.

Para peneliti menentukan bahwa tutupan pohon telah menurun di kota-kota di seluruh dunia sejak tahun 2000, terutama di Afrika Tengah dan Asia Tenggara.

“Temuan ini menunjukkan bahwa kemungkinan penduduk perkotaan untuk mengakses ruang hijau juga berkurang,” kata rekan penulis studi Dr Gladys Barragan-Jason.

“Memang, penelitian ini mengungkapkan bahwa penghancuran wilayah alami dikombinasikan dengan peningkatan kuat populasi perkotaan mengarah pada jarak spasial yang semakin jauh antara manusia dan alam, terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.”

KLIK INI:  Ruang Hijau Perkotaan Lebih Berdampak bagi Kesehatan Mental Perempuan

Para ahli juga menemukan bahwa ada penurunan kunjungan ke taman alam di AS dan Jepang, penurunan aktivitas berkemah di AS, dan penurunan jumlah spesies bunga yang diamati oleh anak-anak Jepang.

“Pengetahuan tentang interaksi manusia-alam ini sangat penting, karena merupakan kunci dalam membangun hubungan kita dengan alam dan perilaku kita,” kata rekan penulis studi Victor Cazalis.

“Kita perlu mempertahankan hubungan yang baik dengan alam untuk memungkinkan transformasi masyarakat yang diperlukan di abad ke-21. Hanya dengan begitu umat manusia dapat ‘hidup selaras dengan alam pada tahun 2050’ seperti yang dicita-citakan oleh pemerintah kita melalui Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global yang saat ini sedang dibahas dalam COP15 Konvensi Keanekaragaman Hayati.” Pungkas Cazalis.

KLIK INI:  Terkesan Menjijikkan, Maggot Menawarkan Beragam Solusi dan Manfaat

Sumber: Earth