Bara (The Flame), Usia Senja Bukan Alasan Berhenti Berjuang untuk Lingkungan

Klikhijau.com – Usia senja  tak membuat Iber Djamal (77) menyerah. Sebagai penduduk asli Kalimantan dan bagian dari masyarakat adat. Usia senja hanyalah angka baginya, yang tak memberinya alasan untuk...

Bara (The Flame), Usia Senja Bukan Alasan Berhenti Berjuang untuk Lingkungan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Usia senja  tak membuat Iber Djamal (77) menyerah. Sebagai penduduk asli Kalimantan dan bagian dari masyarakat adat. Usia senja hanyalah angka baginya, yang tak memberinya alasan untuk berhenti mempertaruhkan hidupnya  demi mendapat hak waris hutan adatnya.

Iber mengorbankan sisa hidupnya untuk menyelamatkan hutan adat terakhir di desanya— Pulau Barasak. Pulau itu merupakan kawasan hutan terakhir di Desa Pilang, Kalimantan Tengah. Karena hutan lainnya telah dihabisi  api dan diprivatisasi beberapa perusahaan.

Iber mencoba menempuh jalan legal terbaik untuk melindungi hutan. Ia berupaya mendapatkan sertifikat hutan adat yang sah untuk sisa hutan di wilayahnya. Namun, keluarga dan masyarakat di desanya berpikir, ia terlalu tua untuk melawan.

Padahal berjuang untuk lingkungan dan hutan tak mengenal usia.

[irp]

Kisah Iber Djamal itu terpapar dalam film dokumenter  Bara (The Flame). Film ini memang hadir mengedukasi masyarakat Indonesia untuk ikut serta melestarikan hutan adat di Kalimantan.

“Bagi kami, masyarakat adat, hutan merupakan jantung dan paru-paru kehidupan. Merupakan bentuk penghormatan kami kepada para leluhur. Hutan memiliki peran penting bagi keberadaan ekosistem tumbuhan dan binatang yang hidup saling berdampingan. Saya sangat berharap kepada penerus saya dan generasi muda di Indonesia. Agar mereka mulai membantu perjuangan kami. Karena hutan adat adalah identitas kita bersama. Semoga film ini dapat ditonton oleh berbagai pihak dan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia,” ungkap Iber Djamal.

Sebagai penyuplai semangat

Film dokumenter ini diproduksi Abimata Group, Cineria Film, RM Cine Makassar, dan Aljazeera Documentary Channel berkolaborasi dengan Yayasan Dian Sastrowardoyo (YSD) dan Sejauh Mata Memandang (SMM).

“The Flame” juga hadir dengan tujuan untuk memaparkan isu krisis iklim dan lingkungan hidup. Keduanya telah menjadi permasalahan besar di negara ini. Film ini ditayangkan secara eksklusif di Makassar Panakkukang XXI,  Jumat, 03 Desember 2021, pukul 15.00 WITA. Pemutarannya sendiri dihadiri para tim produksi, pemain, dan juga kolaborator.

“The Flame” merupakan film dokumenter panjang pertama yang disutradarai oleh Arfan Sabran dan diproduseri oleh Gita Fara. Film ini telah tayang di Vision du Reel Film Festival di Swiss pada April 2021, DMZ International Documentary Film Festival di Korea pada September 2021, BIFED Ecology Film Festival di Turki pada Oktober 2021, dan Jogja NETPAC Asian Film Festival pada November 2021.

[irp]

Meraih nominasi

Selanjutnya, film dokumenter ini akan tayang perdana di Singapore International Film Festival pada Desember 2021 nanti. Film The Flame juga berhasil meraih nominasi Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori film dokumenter panjang terbaik.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2