Bara (The Flame), Usia Senja Bukan Alasan Berhenti Berjuang untuk Lingkungan

Klikhijau.com – Usia senja  tak membuat Iber Djamal (77) menyerah. Sebagai penduduk asli Kalimantan dan bagian dari masyarakat adat. Usia senja hanyalah angka baginya, yang tak memberinya alasan untuk...

Bara (The Flame), Usia Senja Bukan Alasan Berhenti Berjuang untuk Lingkungan
Bacakan Artikel

Bara (The Flame) sendiri memperlihatkan kehidupan masyarakat adat secara nyata, sehingga membawa penonton ikut merasakan investigasi tentang bagaimana proses deforestasi yang berlebihan di Indonesia. Deforestas itu telah menciptakan dampak dan kerugian nyata bagi seluruh wilayah di hutan Kalimantan.

“Kami juga berharap dengan adanya kolaborasi film dokumenter Bara (The Flame) dengan YSD dan SMM dapat membantu mempercepat dan memperluas edukasi yang akan kami lakukan di berbagai wilayah Indonesia terkait isu krisis iklim dan isu lingkungan hidup, terutama hutan adat yang kian punah,” ungkap  Gita Fara, produser film tersebut.

Tentang YDS dan SMM

Yayasan Dian Sastrowardoyo (YDS) sebagai organisasi nirlaba dan Sejauh Mata Memandang (SMM) sebagai label tekstil. Keduanya memiliki perhatian tinggi pada isu lingkungan hidup. Keduanya pun memiliki visi dan misi yang sama dengan filmmakers “The Flame” dalam mengatasi isu-isu lingkungan, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami arti krisis lingkungan hidup dan iklim yang semakin kritis.

Dengan pemikiran ini pula, ketiganya berkolaborasi di penghujung tahun 2021 melalui film. Film dijadikan alat komunikasi melakukan edukasi ke berbagai lapisan masyarakat mengenai pentingnya isu ini.

“Edukasi adalah salah satu pilar utama dari YDS. Penting sekali kita pahami bahwa masalah lingkungan hidup, deforestasi hutan, dan perubahan iklim ekstrie itu adalah masalah serius, sehingga kita perlu mencegahnya dengan melakukan tindakan nyata. Sayangnya, banyak pihak yang tahu, namun belum banyak yang peduli,” ungkap pendiri YDS, Dian Sastrowardoyo

Ia juga menambahkan, Bara “The Flame” adalah salah satu contoh alat edukasi yang sangat efektif. Karena dapat membantu masyarakat untuk mengubah perilaku atau bertindak lebih lanjut hingga menjadi bagian dari solusi, mulai dari mengajarkan diri kita sendiri dan keluarga mengenai pentingnya arti lingkungan hidup dan melindungi hutan Indonesia.

“Saya berharap, semoga kolaborasi ini dapat memberikan manfaat baik untuk masa depan hutan di Indonesia,” tambahnya.

Akan tayang secara virtual

Chitra Subiyakto, pendiri Sejauh Mata Memandang mengatakan,  Sejauh Mata Memandang sangat peduli akan masalah dan isu lingkungan hidup.

“Kami sadar akan pentingnya kolaborasi dengan banyak pihak. Tujuannya agar dapat menjangkau khalayak yang lebih luas. Menjaga bumi dan menciptakan gaya hidup yang ramah lingkungan adalah salah satu pesan utama kami dalam berbagai kegiatan. Hal ini juga yang diangkat oleh film Bara (The Flame) sehingga kami berkomitmen untuk mendukung penuh film ini dalam konsep kolaborasi. Kami berharap pesan ini akan semakin luas. Banyak orang semakin sadar untuk berbuat sesuatu serta aktif melindungi hutan dan masyarakat adat di Indonesia," ujarnya.

Film dokumenter  ini  akan mengunjungi berbagai kota di Indonesia. Tujuannya untuk mengajak masyarakat agar turut serta dalam upaya melindungi lingkungan dan hutan adat di Indonesia.

Film ini juga akan menyapa secara virtual daerah-daerah yang tak terjangkau oleh bioskop melalui pemutaran film dan diskusi yang mendalam.

 Respons penonton

Nurul Iftitah salah satu penonton yang datang dari Kalimantan Selatan. Ia ikut larut dalam film Bara The Flame. Nurul   tahu betul bagaimana dengan kondisi di sana, bagaimana kebakaran hutan menyebabkan banyak yang terkena ispa

“Tahun kemarin saya mengunjungi keluarga di Kalimantan Timur daerah Samboja. Ada danau bekas pertambangannya di sana yang tidak diperhatikan lagi, tidak ada pembatas. Mungkin kalau orang jatuh ke danau itu akan sangat berbahaya dan berakibat fatal. Dan juga ada penampakan gunung yang sisa setengah karena proses penambangan,” bebernya.

Nurul juga mengungkapkan, di Kalsel  tahun kemarin ada kejadian besar, yakni sebagian besar kabupaten di sana tenggelam akibat banjir. Hanya dua kabupaten yang tidak terkena banjir.

“Saya sudah tidak ingat kabupaten apa saja kemarin itu, sempat ada akses jembatan terputus, sampai presiden datang langsung ke Kalsel untuk melihat. Bukan hanya itu,  kebakaran hutan di Kalimantan sering terjadi karena banyak lahan gambut ,jadi sekali kebakaran api sulit dipadamkan,” jelasnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2