Banjir Kalsel, Akumulasi Kerusakan Lingkungan

Klikhijau.com - Awal tahun 2021 menjadi sejarah yang mencekam untuk warga Kalimantan Selatan (Kalsel). Provinsi yang memiliki 11 kabupaten dan 2 kota tersebut, semua wilayahnya terdampak banjir. Ti...

Banjir Kalsel, Akumulasi Kerusakan Lingkungan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Awal tahun 2021 menjadi sejarah yang mencekam untuk warga Kalimantan Selatan (Kalsel). Provinsi yang memiliki 11 kabupaten dan 2 kota tersebut, semua wilayahnya terdampak banjir.

Tinggi air di pemukiman warga ada yang mulai dari sebetis hingga ada yang mencapai atap rumah. Kondisi tersebut benar-benar mencekam.

Banyak kerugian yang dialami oleh warga. Ada puluhan ribu rumah yang terendam, puluhan jembatan rusak (di antaranya terputus), dan lahan pertanian yang gagal panen.

Di tengah pandemi Covid-19 yang menuntut untuk disiplin memakai masker, saling jaga jarak fisik, tidak berkerumun, menjaga higienitas, dan membatasi mobilitas. Boro-boro hal tersebut dapat dilakukan, untuk duduk nyaman diam di tempat saja sangat sulit. Karena sejauh mata memandang hanya air yang nampak. Semua dikelilingi oleh air banjir.

Perdebatan

Tidak dipungkiri bahwa memang terjadi curah hujan yang ekstrem pada saat banjir besar di Kalimantan Selatan. Namun faktor lain juga tidak dapat dikesampingkan. Rasanya tidak pas jika kita hanya menyalahkan curah hujan, tanpa mengevaluasi diri.

Kita tahu bahwa memang sifat air akan mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Jika resapan air tidak memadai, maka otomatis air akan terus-menerus mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Ibarat kata, jika terjadi hujan di gunung, airnya akan turun gunung. Dalam hal ini, hutanlah yang berfungsi sebagai resapan air. Ketika hutan sebagai resapan air tidak berfungsi secara maksimal, maka bisa dipastikan akan muncul bencana banjir.

Pembukaan lahan yang masif, alih fungsi lahan, penggalian tambang, deforestasi, layak untuk dilirik sebagai pemicu banjir. Semuanya tersebut menyumbangkan kerusakan alam, karena tatanan lingkungan yang tidak seimbang. Bagaimanapun, banjir besar terjadi karena akumulasi dari kelestarian alam yang terganggu.

Deforestasi menjadikan kerusakan alam adalah nyata. Sejumlah akibatnya adalah pemanasan global, efek rumah kaca hingga banjir. Momen banjir 2021 ini menjadi catatan penting bagi warga Kalsel untuk disiplin menjaga alam dan kelestarian hutan.

Dilansir oleh Kompas.com (21/01/21), Manajer Kampanye Walhi Kalimatan Selatan, M. Jefri Raharja menyebut bahwa banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan merupakan bencana ekologi. Alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ditambah lagi dengan maraknya penambangan batubara.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2