Bahaya Laten Penggunaan Styrofoam bagi Kesehatan dan Lingkungan?

Klikhijau.com – Penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan rasanya semakin massif. Apakah ini berbahaya atau tidak pada kesehatan manusia? Perihal ini memang sangat kontroversial. Ada yang men...

Bahaya Laten Penggunaan Styrofoam bagi Kesehatan dan Lingkungan?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan rasanya semakin massif. Apakah ini berbahaya atau tidak pada kesehatan manusia?

Perihal ini memang sangat kontroversial. Ada yang mengatakan, styrofoam menjadi pemicu kangker dan penyakit berbahaya lainnya. Alasannya, benda satu ini memiliki zat karsinogenik yang dapat berpindah pada makanan. Akan tetapi, ada pula ilmuan dan peneliti yang mengungkap bahwa styrofoam tidaklah berbahaya.

Kontroversi bahaya styrofoam

Bahaya Styrofoam dibahas Theguardian.com (Dikutip Kumparan, 2017), Styrofoam mengandung sebuah zat bernama polystyrene. Bila mengonsumsi makanan atau minuman dari wadah Styrofoam, maka makanan tersebut berpotensi tercemar polystyrene.

Penyebanya adalah bahan Styrofoam akan meleleh dan melebur bersama makanan. Sedangkan, kandungan polystyrene tersebut dikenal sebagai karsinogen pada manusia, atau zat yang dapat menyebabkan kanker. Itulah mengapa bahaya styrofoam sangat serius bagi kesehatan.

Pendapat yang lain, Dilansir CNN Indonesia (2018), Ahmad Zainal Abidin, seorang dosen dari Institute Teknologi Bandung (ITB) pernah mengatakan, styrofoam yang beredar di pasaran tidak berbahaya.

Menurutnya, nilai aspuan zat styrena yang berpindah dari styrofoam ke tubuh adalah 0,46-12 Miligram per orang per hari. Jumlah ini kata Ahmad sangat rendah. Bahkan, jauh di bawah batas aman yang ditetapkan.

Ahmad berpendapat stirena dalam kadar tersebut setara dengan kandungan yang terdapat di dalam kayu manis, daging sapi, biji kopi, stroberi, kacang, dan tepung yang lazim dan aman dikonsumsi manusia sehari-hari.

Walau begitu, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sebelumnya telah melarang penggunaan styrofoam karena mengandung benzena, yang merupakan satu dari empat komponen toksin pemicu kanker selain toluena, etilbenzena, dan xilena.

Di sejumlah Negara seperti di Jepang penggunaan Styrofoam memang dilarang keras karena alasan kesehatan manusia. Terlepas dari masalah kesehatan yang mengancam dan kontroversi di baliknya, Styrofoam kini mengancam lautan dan ekosistem di dalamnya. Yang pada ujungnya juga akan mengancam kesehatan manusia melalui rantai makanan.

Penggunaan styrofoam

Faktanya, penggunaan styrofoam kini semakin massif di Indonesia. Padahal, pada mulanya, benda satu ini adalah solusi karena lebih ekonomis, lebih efisien dan praktis. Namun, karena harganya yang murah itulah memicu laju produksi dan penggunannya.

Hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2018 di 18 kota di Indonesia menemukan, terdapat sekitar 0,27 juta ton hingga 0,59 juta ton sampah masuk ke laut Indonesia. Sungguh mencemaskan, ternyata jenis sampah yang paling dominan adalah styrofoam.

Angka ini berpotensi bertambah di tahun-tahun mendatang. Terlebih, Pemerintah belum membuat semacam kebijakan khusus yang mendorong pembatasan pemakaian styrofoam.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2