Bagaimana Mengakali Limbah Fast Fashion?

Klikhijau.com - Fast Fashion tengah menjadi kebiasaan baru di masyarakat pasca industri. Tren berpakaian yang semarak dan cepat berubah menjadi salah satu faktor kunci berkembangnya fast fashion. S...

Bagaimana Mengakali Limbah Fast Fashion?
Bacakan Artikel

Bahan baku produksi tekstil berasal dari serat polyester menggunakan senyawa kimia yang menghasilkan microfiber, penghasil microplastik yang banyak terbuang di lautan. Celakanya, microfiber plastik yang tesapu ombak di lautan tak dapat terurai.

Hal yang dikhawatirkan ketika hewan laut yang di konsumsi manusia menyimpan microplastik dalam tubuhnya yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Data dari UNEP dan Ellen MacArthur Foundation menjelaskan, “Setiap tahun industri fashion menggunakan 93 miliar meter kubik air - cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lima juta orang. Sekitar 20% air limbah di seluruh dunia berasal dari pewarnaan dan perawatan kain. Dari total input serat yang digunakan untuk pakaian, 87% dibuang ke tempat pembuangan akhir,” dikutip dari artikel worldbank.

Selain limbah produksi, limbah sampah fashion juga mengancam kelestarian ekologis. Penumpukan sampah pakaian di satu tempat dalam jumlah banyak mencemari tempat tinggal manusia dan menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit.

Trik mengakali limbah fast fashion

Barangkali tanpa disadari, kebiasaan berbelanja pakaian baru tanpa didasari akan kebutuhan bisa berakibat fatal bagi lingkungan sekitar. Namun, hal ini bukan berarti tak ada harapan bagi masa depan kaum pengagum sandang. Selalu ada cara untuk mentaktisi keadaan, termasuk dengan menerapkan gaya berpakaian ramah lingkungan.

Arlinda Verawati termasuk salah seorang yang menerapkan gaya berpakaian berkelanjutan. Melalui media instagram, Linda sapaan akrabnya secara rutin berbagi pengalamannya dalam mengakali tumpukan pakaian tak terpakai miliknya.

Dirinya memaknai aktivitas produksi fast fashion itu berdampak buruk bagi lingkungan, “Fast Fashion itu industri tekstil yang memiliki banyak model fashion yang silih berganti dalam waktu singkat, menggunakan bahan baku buruk dan tidak tahan lama,” sapa alumni Fakultas Teknik Unhas ini.

Menyadari bahaya belanja fast fashion secara besar-besaran, Linda berbagi beberapa tips untuk meminimalisir sekaligus mencegah kerusakan akibat limbah industri fashion ini.

“mulanya bisa dengan menggunakan kembali pakaian yang kita miliki. Bisa juga dengan bertukar baju dengan teman atau siapa saja. Selain itu, membeli pakaian bekas atau thrifting bisa mengurangi limbah sampah dan memperpanjang umur pakaian,” jelasnya.

Meski begitu, Linda memahami betul kebutuhan fashion setiap orang. Oleh karenanya, ia menyarankan untuk membeli produk fashion buatan lokal yang ramah terhadap lingkungan,” Kalau memang harus beli, beli dari brand fesyen lokal berkelanjutan,” sambung Linda.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2