Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Ayah dan Dapur Ibu

Kita, Purnama yang Ditunggui Peramal kau boleh saja pergi bawalah pot berisi tananam hias aglonema perjalananmu bukan bulan separuh hilang setengah dalam pandangan perjalananmu bulan purnama b...

Oleh Idris Makkatutu 30 Aug 2020 01:30 3 menit baca
Kita, Purnama yang Ditunggui Peramal
kau boleh saja pergi bawalah pot berisi tananam hias aglonema perjalananmu bukan bulan separuh hilang setengah dalam pandangan perjalananmu bulan purnama bulat penuh, bersih tiada awan melangkahlah sejauh bisamu jika bertemu air siram aglonema di pot itu jangan biarkan daunnya meranggas, jangan pergilah, buang ragumu di halaman belakang! di bawa pohon sawo penyimpan ari-arimu kisah ini terus bergerak dari satu detak menuju ribuan detak ke depan aku dan kau purnama yang ditunggui para peramal sejauh mana langkahmu sejarak apa pergimu aku angin pada napasmu air pada darahmu pergilah, itu tanda kita tak sedang menulis kisah ini dengan kata yang disingkat-singkat kita mengukirnya dengan kalimat utuh tanpa titik melangkah saja ke sini—ke pelukku Gowa, 24 Februari 2015 [irp]  
Daun Kahayya yang Kau Cari di Apparalang
berkejaran kita menuju Apparalang mencari wajah sendiri di birunya laut karang-karang berubah kecupan kecupi kaki kita hingga kucurkan darah “aku mencari daun dari Kahayya yang hanyut di sungai Balantieng,” katamu “daun itu pasti berakhir di sini, di laut,” lanjutmu yakin aku tatapi matamu kutemukan lompobattang di sana memelihara burung-burung tumbuhkan pohon-pohon jagai cerita leluhur penuh mistik Kahayya itu pertemuan Apparalang sempurnakannya daun-daun dari Kahayya akan sampai ke laut matamu menyimpan segala risau dan tanda baca harus kutafsirkan dengan teori-teori dari lampau sesekali ajaklah aku berendam di matamu tempat bertemunya sungai Balantieng dan laut lalu biarkan aku bergerak sendiri mencari desau angin yang dicuri musim yang membawa daun-daun ke dalam lipatan gelombang ada sepasang daun menari di Apparalang daun dari Kahayya Dialirkan sungai Balantieng namaku dan namamu tertulis di daun itu yang sedang mencari pantai Gowa, 5 Maret 2015 [irp]  
Bunga-Bunga Merimbuni Mata
daun- daun di belakang rumah bertumpukan kubiarkan saja, aku ingin beternak ulat setelah lapuk akan kujadikan kompos nantinya untuk menyuburkan tanaman pemberianmu banyak perihal tumbuh di halaman rumah berakar, menguncup lalu berbunga semerbak ke ruang tamu mencuri segala bau temukan segala tiada akar-kara tanaman pemberianmu menjalar pongah tembusi dinding kelupaskan cat warna ungu kesukaanmu daun-daun tumpang tindih ulat merayapinya mencari segala perihal di sudut rumah paling sunyi di kamar di laci-laci meja belajar jalari rak-rak buku akar-akar tanaman pemberianmu kian kuat setelah menyerpa kompos dari daun yang lapuk dimakan ulat ‘tak ada kuasa jika alam hendak berkehendak,’ bisikmu manja aku menoleh, tapi hanya ada bunga-bunga yang merimbuni mataku Gowa, 27 Juli 2015 [irp]  
Ayah dan Dapur Ibu
kantuk datang berwajah gelombang menyusup lewat celah pintu kamar di mana angin leluasa mencuri segala bayangmu yang kukumpulkan dengan payah dari sebuah rindu resah pohon-pohon terus saja alirkan air mata setelah ditebangi penub sadis atas nama cinta dan keindahan kota kantuk tiba tapi tak membawa lelap gerah mencangkum ke dalam tubuh didihkan darah aku sedang bayangkan bapakmu yang petani peluhnya dihargai hitam putih orang-orang kota aku bayangkan pula ayah yang lupa minum kopi karena harus menebang pohon demi dapur ibu Gowa, 23 Juni 2016 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra lingkungan #penebangan pohon #puisi ekologi