Air Galon Sekali Pakai, Inovasi atau Invasi Sampah Plastik Gaya Baru?

Klikhijau.com – Sejumlah produsen air minum belakangan ini merilis produk air minum kemasan dalam bentuk Galon Sekali Pakai (GSP). Produsen melihat ini sebagai satu inovasi, karena selain efisien dala...

Air Galon Sekali Pakai, Inovasi atau Invasi Sampah Plastik Gaya Baru?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Sejumlah produsen air minum belakangan ini merilis produk air minum kemasan dalam bentuk Galon Sekali Pakai (GSP). Produsen melihat ini sebagai satu inovasi, karena selain efisien dalam distribusi ke konsumen, juga diklaim lebih aman dikonsumsi.

Sejumlah kritik tajam bermunculan di balik inovasi ini karena berpotensi menambah beban sampah plastik. Pihak yang paling keras mengajukan protes adalah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang mengatakan, penggunaan galon sekali pakai akan memperburuk masalah sampah plastik dalam masyarakat.

“Kami justru meminta perusahaan mengurangi sampah plastik untuk bahan pangan, khususnya air minum kemasan sekali pakai, karena itu akan sangat membebani bumi. Plastik tidak bisa terurai. Bukan justru memproduksi bahan plastik sekali pakai yang baru. Kami tidak mendukung produk kemasan semacam itu,” ucap Sularsi Dilansir Republika 10 Mei 2020.

Kata Sularsi, secara bisnis bisnis atau marketing, perusahaan memang ingin melakukan sebuah inovasi baru dengan menciptakan kemasan baru, tapi dari sisi lingkungan, YLKI secara tegas tidak mendukungnya.

Alasannya, model seperti ini, lanjut Sularsi, seolah melimpahkan tanggungjawab untuk mengolah sampah plastik pada masyarakat. Padahal, seharusnya, industrilah yang bertanggung jawab untuk menarik kembali kemasan plastik sekali pakai yang diproduksinya.

Selain itu, industri tersebut juga harus mengedukasi masyarakat tentang cara memperlakukan kemasan plastik sekali pakai agar menjadi beban lingkungan.

“Yang perlu diawasi adalah bagian hulunya. Masalah sampah plastik ini tidak akan pernah selesai kalau hulunya tidak diawasi. Jangan sampai kehadiran air kemasan galon sekali pakai ini malah menimbulkan masalah baru bagi lingkungan. Jadi perlu ada kebijakan yang diambil untuk itu,” ucap Sularsi.

Sularsi menambahkan negara seharusnya punya kebijakan bagaimana untuk mengurangi sampah plastik ini. Negara punya tanggung jawab di hulunya atau industrinya dengan mengatur kewajiban mereka untuk mengambil kembali kemasan itu dan bagaimana mekanismenya.

Tanggungjawab daur ulang bukan di konsumen

YLKI menegaskan bahwa tanggung jawab mendaur ulang itu bukan di tangan konsumen, tapi pada perusahaan.

Industri pangan, khususnya berbahan plastik sekali pakai semestinya memiliki cara bagaimana memusnahkan bahan-bahan plastik sekali pakai dan juga punya tanggung jawab untuk mendaur ulang kemasan yang diproduksinya.

“Konsumen kan membeli isinya bukan kemasan. Lalu kemasannya itu untuk apa? Makanya industri pangan harus punya tanggung jawab untuk ’recycle’ kemasan itu,” tegas Sulastri.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2