- Meski Akan Dilarang Pemerintah, Kamu yang Suka ‘Thrifting’ Mungkin Setuju Ini! - 27/11/2025
- Mengamati Suatu Sekolah Negeri Mengurus Sampahnya, Emmmm! - 17/11/2025
- Menyelami Sensasi Ketakjuban - 30/10/2025
Klikhijau.com – Bisnis pakaian impor bekas sebetulnya sudah ada sejak lama. Di Makassar dinamai “cakar”, di Sumatera akrab dinamai “Monza”, di daerahmu apa?
Apapun namanya, banyak orang jadi penikmat aktivitas pilih-pilih barang bekas. Barangkali itupula sebabnya sehingga aktivitas eksplore barang bekas lebih populer dinamai “thrifting”.
Thrifting adalah suatu aktivitas membeli pakaian bekas atau benda-benda second hand di toko barang bekas, pasar loak bahkan via online-shop.
Thrifting secara leksikal merujuk pada arti “hemat”. Yah, aktivitas belanja pakaian bekas merupakan bagian dari kesadaran menghemat uang. Namun, tetap berpeluang mendapatkan barang-barang bagus, bermerek dan vintage.
Faktanya, thrifting tidak sekadar untuk hemat. Lebih dari itu, ia menjelma jadi hobi. Bahkan memantik hormon kebahagiaan. Jika seseorang mendapatkan barang terbaik di pasar loak barang bekas, tentu suatu pencapaian tersendiri bukan?
Beberapa tahun terakhir ada semacam pergeseran budaya dimana penikmat thrifting menyasar seluruh kelas sosial. Lihatlah bagaimana toko-toko trifting di kota Anda. Menjamur. Bahkan lebih ramai dari mall.
Mereka yang datang adalah anak-anak muda. Penikmat baju bekas yang mendambakan barang-barang unik demi tampil beda dan menawan.
Jadi, apalah daya bila Pemerintah benar-benar melarang “thrifting” khususnya untuk barang-barang impor. Kabarnya, “thrifting” hanya diperbolehkan untuk barang-barang bekas domestik.
Tujuannya tentu demi kesehatan dan merebaknya bisnis pakaian illegal yang potensi merusak produk lokal. Jika benar-benar dilarang atau dibatasi, apakah “thrifting” dengan produk lokal masih seheboh barang-barang impor? Apakah kamu masih mau menjejakinya?
Benefit “Thrifting”
Seperti judul artikel ini, sekali lagi ada sensasi tersendiri yang membuat banyak orang ketagihan dengan “thrifting”. Kamu mungkin sepakat beberapa hal di antaranya:
- Harganya murah
Harganya sudah pasti lebih murah. Untuk kamu yang punya kemampuan memilah barang-barang bagus, tentu lebih berpeluang mendapat barang terbaik.
Jadi dengan sedikit modal, Kamu mendapat barang bagus, tentu sesuatu banget bukan?
- Barang Vintage
Ini yang paling diinginkan penikmat “trifting”, menemukan barang-barang model lama yang khas alias vintage. Hanya di pasar barang bekas kamu dapat merasakannya.
Menemukan barang impian ibarat menemukan suatu barang yang akan mengantar kita pada mesin waktu bernama “kenangan”. Barang-barang itu mungkin pernah jadi idola di tahun-tahun tertentu atau pernah jadi dambaan banyak orang di waktu lampau. Mendapatkannya tentu membahagiakan bukan?
- Lebih Ramah Lingkungan
Riset Ecoton belum lama ini perihal mikroplastik mungkin layak jadi perhatian. Riset menunjukkan bahwa produksi pakaian memicu mikroplastik di udara.
Jika aktivitas “thrifting” mengurangi pembelian pakaian baru yang dapat mengurangi produksi pakaian baru, tentu jadi pertimbangan tersendiri bukan. Karenanya banyak yang mengklaim bahwa belanja barang bekas merupakan aktivitas ramah lingkungan.
- Melatih Ketelatenan
Betapa pun, belanja “thrifting” perlu ketelitian tingkat dewa. Namun disinilah seninya. Kita perlu detail, apik dan super telaten memeriksa bagian-bagian dari barang yang diinginkan.
Proses memilah dan memilah ini akan melatih kesabaran dan ketelatenan. Sangat mirip dengan aktivitas memancing di laut atau di sungai, perlu kesabaran dan ketelatenan. Namun, jika berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan, wow senangnya bukan main.
- Melatih “Slow Living”
Nah, di tengah aktivitas keseharian yang riuh dan super cepat, kita perlu suatu aktivitas yang mengembalikan fokus kita menyadari sensasi kehidupan. Kita membutuhkan suasana yang menekankan aspek kualitas, fokus dan sadar penuh (mindfull) dan menyadari momen-momen secara lebih sederhana dan sadar utuh.
Pada saat melakukan “thrifting” kita dapat merasakan sensasi ini sahabat Hijau. Jadi, di tengah Pemerintah akan membatasi pasar thrifting impor khususnya perdagangan illegal, apakah kamu yang penggemar thrifting akan beralih ke pakaian baru tanpa perlu sibuk-sibuk memilih? Atau ada jalan tengah misalnya regulasi yang mengatur dengan baik alur perdagangan barang impor, tentu dengan tetap memastikan produk-produk fesyen domestik dapat bersaing.
Atau kita akan datang secara diam-diam demi memenuhi hobi? Atau segera hanya duduk di teras dan mendongeng pada anak-anak kita perihal wisata barang bekas yang selalu layak dikenang.








