5 Kisah Fiksi Inspiratif dalam buku “Bukan untuk Dibaca” dengan Metafora Alam

Klikhijau.com – Sejak lama, telah banyak pengarang yang karya-karyanya sangat kental dengan permasalahan lingkungan. Para penulis itu tidak saja memakai metefora alam semesta dalam kisah yang dibuatny...

5 Kisah Fiksi Inspiratif dalam buku “Bukan untuk Dibaca” dengan Metafora Alam
Bacakan Artikel

Hingga pada akhirnya Hollis memutuskan untuk menemuinya di statiun New York dan Hollis akan menyematkan setangkai bunga mawar di kerah bajunya.

John pun menyetujuinya dan pada akhirnya di statiun selama 1 menit berlalu dari waktu yang ditentukan John melihat sosok wanita cantik mengenakan baju warna hijau.

Namun disatu sisi wanita tersebut tidak memiliki setangkai bunga mawar di kerah bajunya itu hingga dia mengalihkan penglihatanya dan melihat sosok wanita tua umur 40 tahunan mengenakan mawar di tangkai kerah bajunya.

John pun mendekati nenek itu dan langsung mengajak nenek tersebut untuk makan malam bersama sesuai perjanjianya dalam surat yang terima. Rupanya Hollis menguji cinta John melalui nenek tua tersebut untuk membuktikan cintanya.

Pesan yang dapat disimpulkan dalam cerita ini, sikap setia dan konsisten selalu akan berbuah kebahagiaan. Siapa yang memegang janjinya maka dialah orang yang bisa dipercaya dan mampu menyandarkan hidup padanya.



  1. Kisah pohon apel



Mungkin tak asing lagi kita mendengar cerita ini tentang seorang anak laki- laki dan pohon apel. Cerita ini berawal dari anak lelaki kecil yang sangat menyukai pohon apel. Hampir setiap hari masa-masanya dia habiskan bersama pohon apel di belakang rumahnya.

Hingga waktu berlalu anak itu sudah bertumbuh besar dan mengunjungi pohon apel itu, pohon apel itu berkata, kesinilah kita bermain. Anak lelaki itu menjawab saya bukan lagi anak kecil, saya sudah besar saya menginginkan uang untuk membeli mainan.

Pohon apel pun menjawab, kemarilah ambil buah apel yang ada di badan saya lalu menjualnya semoga dengan menjual apel apel ini kamu bisa membeli mainan.

Anak lelaki itupun mengambil dengan senang dan menjualnya dan anak lelaki itu tidak kembali- kembali lagi. Hingga di suatu hari anak lelaki itu kembali dengan wajah bersedih, pohon apel itu menyambutnya dengan penuh bahagia dan mengatakan, kamu kenapa kemarilah bermain denganku?

Anak lelaki itupun menjawab, aku tidak memiliki waktu, aku sudah berkeluarga namun kami tidak memiliki rumah sebagai tempat tinggal. Pohon apel itupun dengan bahagia berkata ambillah ranting- rantingku kau bisa membuat rumah sebagai tempat berteduh, akhirnya anak lelaki inipun mengambilnya dan pulang tidak kembali lagi.

Dan pada hari terpuruknya dia mendatangi lagi pohon itu sambil berkata aku sedih, aku ingin hidup tenang, aku memerlukan liburan. Pohon apel itupun dengan penuh semangat mengatakan, ambillah batangku semoga dengan batang ini kamu bisamembuat kapal dan bisa berlibur sesuka hatimu.

Anak lelaki itupun menebang batang pohon apel itu dan pergi dengan penuh bahagia. Hingga suatu hari ketika sudah menjadi kakek kakek anak lelaki itu kembali dan pohon apel itu mengatakan, maaf sekarang saya sudah tidak memiliki apa-apa. Namun apabila engkau ingin istirahat dan berbaring lakukanlah di akar tuaku semoga dengan itu kamu akan tenang. Anak lelaki itupun lantas berbaring di pelukan akar-akar pohon apel tua itu . Hingga apel itupun sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ibarat tempat kembali pulang dan berteduh pohon apel itu di ibaratkan sebagai orang tua kita. Sebaik- baik tempat terbaik adalah orang tua. Sebaik- baik sebuah lingkungan adalah lingkungan tempat kita tumbuh dan proses pendewasaan terbaik adalah keadaan lingkungan itu sendiri.



  1. Nilai seikat kembang



Cerita ini tentang sebuah kisah wanita yang bernama Nyonya Stevan, Suatu hari dia mendatangi kuburan dan meminta sopirnya untuk menemui tukang penjaga kubur menuju ke mobil nyonya tersebut.

Nyonya Stevan sudah terbilang tua dan sudah hampir meninggal karena penyakit yang diderita. Nyonya Stevan pun bertemu dengan penjaga kuburan itu. Lalu dia memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa dialah yang tiap 2 minggu sekali mengirimkan uang kepada penjaga kuburan itu untuk membelikan seikat kembang untuk ditaburkan diatas kuburan anaknya yang sudah meninggal.

Nyonya Stevan datang karena ingin berterima kasih di akhir- akhir hidupnya yang sudah tidak lama lagi dia akan meninggal.

Namun, penjaga kubur itu menjawabnya bahwa uang yang dikirimkan itu tidak ia pakai untuk menyimpanya di atas kuburan anaknya. Akan tetapi dia bagikan kepada orang miskin yang dia jumpai, dirumah sakit ataupun orang yang sedah bersedih agar mereka dapat menikmati aroma bunga itu.

Wanita itupun terdiam dan menyuruh sopirnya untuk segera pulang. Hingga beberapa bulanpun kemudian, wanita itu kembali lagi untuk mendatangi penjaga kuburan itu dengan tujuan ingin berterima kasih kembali karena pesan yang diberikan kepada wanita itu, bahwa setelah dia melakukan hal serupa memberikan bunga ke rumah sakit dan orang miskin dia memiliki kebahagiaan tersendiri setiap sudah memberikan sesuatu kepada seseorang yang membutuhkan.

Dapat disimpulkan bahwa untuk memeproleh kebaikan itu sendiri berawal dari bagaimana kita memperlakukan lingkungan kita sendiri terlebih dahulu. Kebaikan yang dilakukan pada orang lain akan berdampak kembali kepada pribadi masing- masing pihak. Mutlak, tanpa syarat.



  1. Bawang Bombay Kehidupan



Suatu hari seorang pengajar menyuruh muridnya untu menuliskan 20 nama seseorang yang paling penting dalam kehidupannya. Baik itu saudaranya, sekantor, teman, tetengga, pacar dan lainnya.

Kemudian pengajar  memerintahkan mencoret 1 nama yang dianggap tidak penting dari ke 20 nama yang sudah mereka tuliskan, begitupun seterusnya. Hingga tersisa 3 nama: Nama orang tuanya, suaminya dan anaknya.

Hingga kelas terasa begitu hening. Semua murid menebah-nebak siapa yang akan dicoret selanjutnya. Hingga pengajar memberikan arahan selanjutnya: “silahkan coret satu lagi!” mereka pada gelisah dan tegang.

Ketika pengajar kembali bertanya kepada 1 orang murid: “orang terkasih kamu bukan orang tua dan anakmu? Bukankah orang tua yang merawatmu dari dalam kandungan hingga engkau besar sedangkan anakmu, kamu yang merawatnya dari dalam kandungan hingga dia besar?”

Semua mata tertuju pada seorang murid yang ditanya itu. Seorang murid itupun berkata, “ waktu akan berlalu, orang tua saya akan pergi meninggalkan saya dan anak pun demikian. Jika ia telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya. Dan yang benar-bena yang bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya kelak nantinya.

Kehidupan itu bagaikan bawang bombay. Ketika dikupas selapis demi lapis, akan habis. Dan adakalanya kita dibuat menangis.

Itulah 5 Cerita menarik dalam buku “Bukan untuk Dibaca” karya Deassy M Destiani yang temanya banyak bersinggungan dengan isu lingkungan. Semoga menambah wawasan kita semua!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2