4 Fakta Unik Pohon Raksasa “Kalumpang Lompoa” di Bantaeng

Klikhijau.com - Dalam rute perjalanan pulang dari Sinjai, mampirlah kami di Bantaeng. Kota ini memang terkesan lebih sejuk nan rindang. Tetapi, kami sudah terbiasa dengan suasana kotanya yang bersih....

4 Fakta Unik Pohon Raksasa “Kalumpang Lompoa” di Bantaeng
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Dalam rute perjalanan pulang dari Sinjai, mampirlah kami di Bantaeng. Kota ini memang terkesan lebih sejuk nan rindang. Tetapi, kami sudah terbiasa dengan suasana kotanya yang bersih. Cerita dari seorang kawan tentang kawanan pohon tua yang terjaga, lebih memikat. Kami memilih ke sana ketimbang menikmati senja di pantai Marina.

Jaraknya sekitar 10 kilometer dari pusat kota Bantaeng atau sekitar lima belas menit waktu tempuh. Sebelum akhirnya tiba di Passangarrang, Kecamatan Gantarang Keke, kami melewati sedikit jalan berkelok yang sempit. Area hutan adat, persawahan dan kebun-kebun membentang hijau laksana sebuah lukisan. Suasana yang membuat kami betah dalam perjalanan.

“Kalumpang Lompoa”, begitu warga sekitar menyebutnya. Suasananya memang lumayan mistis, terlebih karena kami datang di penghujung sore jelang magrib.

Di sana, kami takjub dengan beberapa pohon besar. Batangnya berdiameter besar, kira-kira hingga enam orang dewasa dapat berangkulan mengitari pohonnya. Sementara tangkai dan daunnya meranggas bebas berpuluh-puluh meter. Itu tak seberapa, bila dibandingkan akar-akarnya yang berpendar di tanah. Menjalar ke mana-mana laksana ular berseliweran.

“Apakah tempat ini keramat bagi warga?” Tanya seorang kawan pada seorang tetua di sana.

“Yah, begitulah bagi sebagian orang,” katanya.

Mungkin itulah sebabnya, pohon ini tumbuh lestari dan terawat hingga sekarang. Mistis dan kepercayaan terhadap pepohonan memang pernah berkembang di banyak tempat di Indonesia.

“Entah kenapa, pohon-pohon berjatuhan dan kehilangan aura mistiknya, atas nama modernisasi,” kata saya berdiskusi dengan kawan-kawan.

Kami berkeliling di sana hingga petang menjemput. Berdiskusi dengan warga sekitar. Berikut 4 fakta unik di balik kelestarian pohon raksasa “kalumpang lompoa” di Bantaeng yang kami temukan.



  • Mulai langka di Bantaeng



Warga sekitar menyebutnya “pohon kalumpang”, atau pohon kepuh. Dalam bahasa latin dinamakan sterculia foetida linnini. Pohon kepuh memang satu jenis yang dapat tumbuh tinggi hingga 40 meter. Kepuh dalam bahasa Inggris berarti “wild almond” konon karena bentuk bijinya menyerupai biji almond. Kini, pohon ini termasuk langka seiring perkembangan lahan pertanian dan perkebunan.


  • Sudah berusia 600 tahun



Menurut pengakuan tetua di Passangarrang, pohon raksasa ini sudah berusia sekitar 600 tahun. Konon pohon ini merupakan peninggalan kerajaan Butta Toa yang terus dilestarikan untuk mengenang kejayaan sejarah.


  • Dikeramatkan sebagian warga



Hingga saat ini, masih banyak warga yang berdatangan di “kalumpang lompoa” sembari membawa makanan tertentu. Ritual paling terkenal di sana adalah upacara bakar ayam kampung lalu makan bersama.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2