Wanita dalam Cangkang

Wanita dalam Cangkang   Pada hakekatnya aku berbicara kepadamu Dan ikut menenguk getir pahit dalam cangkir kopimu Haus yang purba ini telah lama meminta pada gelas hampa yang pandai menagih...

Wanita dalam Cangkang
Bacakan Artikel

Wanita dalam Cangkang


 

Pada hakekatnya aku berbicara kepadamu
Dan ikut menenguk getir pahit dalam cangkir kopimu
Haus yang purba ini telah lama meminta pada gelas hampa yang pandai menagih kebeningan benda-benda.

Kau melipat diri di hadapan hal-hal gaib
Tersampai padaku sebagai kewajaran dari pohon-pohon, bukit-bukit dan padang-padang yang berlari
Seperti dalam kaca jendela mobil tua yang memasuki terowongan waktu

Gema-gema menggandakan suaranya, menyebut namamu semata.
Selayaknya kepak sayap burung yang memburu angin
Menyisakan guratan udara untuk dinapaskan dada
Aduhai wanita, yang dipunggungnya memikul cangkang, tersebut namamu selalu

Okt 21

Magrib di Beranda


 

Katamu, tersekap di kampung halaman sama halnya dengan menanti kepunahan.
Aku mulai dihantui cacat keyakinan dengan sedikit kenyamanan.

Entah berapa banyak anak-anak yang mulai berlari
Seakan berlomba-lomba ingin meninggalkan tanah leluhur ini.
Menanggalkan adat istiadat, yang ari-arinya masih bergelantungan di puncak pohon asam itu
Bahkan saat sayup magrib jatuh di beranda, mereka seakan memintaku ikut berlapang dada

Aku berada dalam belenggu-belenggu yang kau ciptakan
Kau seolah asyik menertawakan
Namun mungkin memang beginilah kisah yang harus disembunyikan dari dunia luar
Biarlah, biar kugenapi tanah leluhur ini dengan amis darah tanpa sesiapa.

Okt 21

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2