Urban Farming, Mengubah Lahan Terbatas Jadi Ruang Silaturahmi dan Cuan

Klikhijau.com - Belakangan ini makin banyak orang melirik urban farming.  Karena selain bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, juga bikin lingkungan lebih hijau. Urban farming atau bertani di...

Urban Farming, Mengubah Lahan Terbatas Jadi Ruang Silaturahmi dan Cuan
Bacakan Artikel
Muh Noer Faiz Azis

Artikel terbaru dari Muh Noer Faiz Azis (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Belakangan ini makin banyak orang melirik urban farming.  Karena selain bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, juga bikin lingkungan lebih hijau.

Urban farming atau bertani di perkotaan bukan hanya satu jenis saja, tapi ada berbagai, mulai dari kebun komunitas yang dikelola bersama oleh warga untuk menanam sayuran, buah-buahan, atau tanaman obat, hingga kebun rumah tangga yang memanfaatkan pekarangan rumah.

Selain itu, ada juga pertanian vertikal yang membudidayakan tanaman dalam lapisan bertingkat di dalam ruangan menggunakan teknologi hidroponik atau aeroponik, roof garden yang dibuat di atas atap bangunan, aquaponics yang menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu siklus, serta peternakan urban yang beternak hewan seperti ayam, kelinci, atau lebah di lingkungan perkotaan.

Urban farming memberikan banyak manfaat, termasuk meningkatkan akses terhadap makanan segar dan sehat, menciptakan lapangan kerja lokal, mengurangi jejak karbon, meningkatkan kualitas udara, mempererat hubungan antar warga, dan menjadi sarana edukasi tentang pertanian, nutrisi, dan lingkungan.

[irp]

Di Sulawesi Selatan, urban farming semakin populer dan didorong oleh pemerintah daerah dan komunitas. Di Makassar, misalnya, ada pemanfaatan lahan kosong di sekitar rumah susun dan pengembangan kebun komunitas di beberapa kelurahan.

Masyarakat sering memilih budidaya sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, dan cabai karena mudah ditanam dan bernilai ekonomi tinggi, serta mengembangkan sistem hidroponik atau aquaponics untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Namun, urban farming juga menghadapi tantangan seperti keterbatasan lahan, kualitas tanah yang buruk, akses air bersih yang terbatas, serangan hama dan penyakit, serta kurangnya dukungan kebijakan dan regulasi.

[caption id="attachment_34269" align="aligncenter" width="1200"] Tanaman cabai, hasil dari urban farming di Makassar -foto/Ist[/caption]

Sebaiknya mulai dari skala kecil

Untuk memulai urban farming, disarankan untuk memulai dari skala kecil, memilih lokasi yang tepat, menggunakan media tanam yang baik, mempelajari teknik bertanam yang benar, dan bergabung dengan komunitas urban farming. Dengan perencanaan yang matang dan komitmen yang kuat, urban farming dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan ketahanan pangan, menciptakan lingkungan yang lebih hijau, dan meningkatkan kualitas hidup di perkotaan.

[irp]

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2