Urban Farming, Mengubah Lahan Terbatas Jadi Ruang Silaturahmi dan Cuan

Klikhijau.com - Belakangan ini makin banyak orang melirik urban farming.  Karena selain bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, juga bikin lingkungan lebih hijau. Urban farming atau bertani di...

Urban Farming, Mengubah Lahan Terbatas Jadi Ruang Silaturahmi dan Cuan
Bacakan Artikel
Muh Noer Faiz Azis

Artikel terbaru dari Muh Noer Faiz Azis (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Di Sulawesi Selatan, potensi urban farming sangat besar mengingat iklim tropis yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Pemerintah daerah dapat berperan lebih aktif dalam memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat, serta memfasilitasi akses terhadap bibit unggul dan teknologi pertanian modern. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas sangat penting untuk menciptakan ekosistem urban farming yang kuat dan berkelanjutan.

Urban farming juga dapat menjadi daya tarik wisata baru di perkotaan, dengan mengembangkan kebun-kebun edukatif yang terbuka untuk umum. Dengan demikian, urban farming tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pangan lokal dan gaya hidup berkelanjutan.

Wati, salah satu warga yang mempraktikkan urban farming bercerita, awalnya ia hanya melihat banyak lahan kosong di belakang rumah. Ia tak ingin menyia-nyiakan lahan terbengkalai begitu saja.

“Dari pada kubiarkan begitu saja, mending kubuat kebun kecil,” ujarnya. Ia juga mengatakan harga sayur di pasar yang terus naik juga jadi pemicu.

“Biasa juga kita tidak tahu segar atau tidak itu sayur yang ada di pasar. Jadi, kenapa tidak bikin kebun sendiri saja,” ujarnya. .

Lebih lanjut, Wati menjelaskan, kebun miliknya sudah setahun lebih ia merawat. Ada beberapa jenis tanaman yang ia tanam, di antaranya cabai kecil dan besar, tomat, jagung. Bahkan Wati juga pisang dan pohon durian.

Seiring waktu, jenis tanamannya makin beragam, termasuk ada juga tanaman herbal seperti jahe dan kunyit. Ketika sudah memasuki musim panen biasanya Wati mengonsumsi hasil panennya sendiri atau membagikannya ke keluarganya atau ke tetangga-tetangganya. Selain itu, terkadang  ia menjual hasil panennya.

“Semenjak ada kebun, saya jarang mi ke pasar, setiap saya mau beli lombo (cabai) karena adami saya tanam di kebun dan bisa menghemat uang belanja,” jelasnya.

Wati mengaku, ia mengurus kebunnya tidak sendiri. Ada dukungan dari suami dan orang tuanya.

“Semenjak saya memiliki kebun kecil ini, saya bisa lebih hemat lagi dan membuat rumah terasa lebih hidup lagi,” katanya.

“Semoga urban farming ini bisa membawa perubahan. Dari lahan terbengkalai yang awalnya tak berguna, kemudian di sulap menjadi sumber pangan, sumber rezeki, bahkan ruang kebersamaan,” tambahnya.

Menumbuhkan harapan

Urban farming ini bukan hanya soal menanam, tetapi juga tentang menumbuhkan harapan. Dengan punya kebun sendiri, kita bisa memastikan makanan yang dikonsumsi segar dan bebas dari bahan kimia. Dan walaupun kecil, hasil panen bisa mengurangi belanja harian, bahkan jadi tambahan pemasukan kalau dijual, dengan hal ini dapat memberikan harapan bahwa kota bisa ramah lingkungan.

Jadi, urban farming ini bukan sekadar aktivitas fisik menanam saja, tetapi sebuah gerakan kecil yang membawa harapan besar berupa hidup lebih sehat, hemat, mandiri, dan peduli lingkungan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2