Tentang Jejak Hidup Sukses dari Filosofi Air Mengalir

Judul Buku: Mengalir Melintasi Zaman Penulis: Prof. Dr. A. Arsunan Arsin Cetakan Pertama: Januari 2018 Penerbit: P3i Press Tebal: 300 Halaman   Tak ada manusia yang tak dirundung dilemati...

Tentang Jejak Hidup Sukses dari Filosofi Air Mengalir
Bacakan Artikel

Judul Buku: Mengalir Melintasi Zaman
Penulis: Prof. Dr. A. Arsunan Arsin
Cetakan Pertama: Januari 2018
Penerbit: P3i Press
Tebal: 300 Halaman

 

Tak ada manusia yang tak dirundung dilematis dalam hidupnya. Apa yang kita putuskan sebagai pilihan bukanlah sesuatu yang  tanpa risiko dan konsekuensi. Semua pilihan ada plus minusnya.

Bila prinsip ini dipegang, kita tentu bisa sedikit optimis dan meyakini bahwa apa pun yang kita pilih dari sebuah masa lalu, baik perihal jodoh, pekerjaan, pendidikan dan lainnya—adalah yang terbaik.

Prof. Dr. A. Arsunan Arsin, pakar epidemiologi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) seolah menjadi cermin tentang bagaimana jejak kesuksesan tidak selalu datang karena seratus persen dipengaruhi lingkungan dan espektasi.

Banyak orang yang sukses setelah tersesat masuk ke dalam dunia yang tak dikenalinya atau dunia yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Hidup bisa jadi memang suatu ketersesatan, kata banyak filsuf. Masalahnya bukan pada dimana kita tersesat, tetapi bagaimana kita melewati peristiwa ketersesatan itu sebagai sebuah takdir.

Tentang buku Mengalir Melintasi Zaman

Dalam buku berjudul “Mengalir Melintasi Zaman”, yang berkisah tentang jejak dan dinamika hidup Prof Arsunan, kita seolah diinspirasi betapa pentingnya merespon situasi dari sebuah takdir dengan cara bijak.

Seorang Arsunan kecil yang tumbuh dari keluarga guru dan dibayangkan kelak akan jadi guru adalah sebuah jejak yang mengandung pembelajaran positif bagi anak-anak muda.

Pilihan untuk tidak mengambil kuliah keguruan saat tamat SMA bisa jadi suatu pilihan ekstrim di masa itu. Arsunan muda yang memilih masuk Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, seperti tersesat di dunia lain. Bahkan, dalam benak seorang Prof Arsunan, cita-cita terbaiknya sejak kecil adalah menjadi guru.

Ketersesatan membuatnya terdampar sebagai dokter gigi. Imajinasi tentang impian saat memilih masuk Fakultas kedokteran seratus persen berubah. Arsunan muda kelak akan berprofesi sebagai dokter gigi.

Menghabiskan waktu di rumah sakit dan di sebuah klinik. Tetapi, tidak rupanya. Hidup selalu memberi kejutan. Kadang lebih dari sekadar apa yang diperkirakan. Arsunan muda diterima sebagai dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas—sebuah fakultas berbeda, tentunya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2