Studi: Cuaca Ekstrem Memicu Peningkatan Pernikahan Anak

Klikhijau.com - Secara global, satu dari lima anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Khusus di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, angka tersebut meningkat hingga 40%. Saat peru...

Studi: Cuaca Ekstrem Memicu Peningkatan Pernikahan Anak
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Secara global, satu dari lima anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Khusus di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, angka tersebut meningkat hingga 40%.

Saat perubahan iklim melanda, jumlah tersebut mungkin bertambah. Apalagi dengan adanya peningkatan frekuensi kejadian cuaca ekstrem di seluruh dunia.

Klaim tersebut disuarakan oleh rekan penulis studi Smitha Rao, asisten profesor pekerjaan sosial di Ohio State.

โ€œKompleksitas seputar pernikahan anak dan cuaca ekstrem akan semakin buruk di tengah perubahan iklim,โ€ kata Rao.

[irp]

Rao merupakan salah satu peneliti di Ohio State University. Para peneliti ini melakukan tinjauan sistematis terhadap 20 penelitian yang menghubungkan kekeringan, banjir, dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya dengan peningkatan pernikahan anak, pernikahan dini, dan pernikahan paksa di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Sedangkan menurut Fiona Doherty , penulis utama studi tersebut dan kandidat doktor dalam bidang pekerjaan sosial di Ohio State, secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti kuat mengenai masalah ini, kata

Studi ini dipublikasikan baru-baru ini di jurnal International Social Work. Doherty juga mengungkapkan, bukan berarti cuaca ekstrem berdampak langsung pada pernikahan anak.

โ€œBencana-bencana ini memperburuk masalah ketidaksetaraan gender dan kemiskinan yang menyebabkan banyak keluarga melakukan pernikahan anak sebagai mekanisme penanggulangannya,โ€ katanya.

Para peneliti meneliti 20 penelitian yang diterbitkan antara tahun 1990 dan 2022 yang meneliti bagaimana cuaca ekstrem berhubungan dengan pernikahan yang melibatkan anak-anak. Kebanyakan perempuan, yang berusia di bawah 18 tahun. Sebagian besar penelitian dilakukan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di Asia dan Afrika, termasuk Bangladesh, India, Pakistan, Kenya, Nepal, dan Vietnam

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: