Setandus Apakah Bumi Sekarang?

Kursi Kayu di Ruang Tamu   Kursi dari batang nangka itu masih setia menunggui tamu di ruang tamu Sejak kepala desa baru terpilih Ruang tamu mulai sepi pengunjung Tak ada lagi perundingan...

Setandus Apakah Bumi Sekarang?
Bacakan Artikel

Alam telah mengubah pikiranmu untuk tak lagi menjadi politikus
Tapi pada perayaan tujuh belas ketika kau diwajibkan menanam pagar bambu di halaman lengkap dengan cat berwarna-warni
Kau kembali seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.

Aku membaca ketidakmampuanmu dalam mengeja bentuk bumi dan bulan
Meskipun bunga matahari sudah kau rekahkan di taman bacamu berkali-kali
Kau seperti terjebak dalam satu puisi yang berkali-kali dicampakkan ke tempat sampah
Bersanding dengan buku-buku tua, dan popok bekas anak kecil.

Pada saat-saat itu, sesungguhnya kurasa kita punya kesepian yang sama
Sebab berkali-kali kita hanya menemukan bunga-bunga tiruan di bagian yang tak mampu dirampungkan tualang.

Setandus itukah Bumi sekarang? Tanyamu.
Dan kau tak butuh jawabanku untuk mengerti semua itu

Juli 2022

Hanya kepada Jembatan


 

Kita nyaris menghabiskan sisa usia di sekolah, bertahan untuk tak mencintai siapapun, kecuali dekap ibu bapak yang menunggu waktu panen cengkih datang lebih awal

Meski sendiri, kita selalu ingin mewarnai gerbang sekolah dengan perayaan-perayaan kecil yang membuat penontonnya melupakan pendidikan dan penderitaan
Ibu bapak guru menyanyikan Indonesia raya, dan kita akan asyik baris berbaris menaikkan bendera merah putih di tiang bambu
meskipun dalam lomba kita tak memenangkan apa pun.
Kecuali tawa penonton yang riuh rendah.

Sungai, gunung, bendera, dan sekolah semua dilukiskan dalam satu kain menggunakan kuas dan cat air
Mengisahkan pedesaan yang pandai menyembunyikan perkelahian adik kakak
Topi caping dan hamparan padi mengajari kita tentang hal-hal palsu yang terlihat di layar kaca tv
Ketika sol sepatu para penguasa berbicara kepada sepasang telinga yang tak mampu menyetujui keinginannya

Jadi mari kuberitahu sekarang
Hanya jembatan yang mampu menceritakan sungai dengan sebenar-benarnya
Maka ketika sekolah melemparkan kau dengan berbagai macam model ijazah
Saat kau diam, kau telah kalah
Serupa alam yang kalah dari tingkah kita yang serakah.

Juli 2022

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2