- Kapur Barus, Inovasi Unik Mengusir Babi Hutan tanpa Menyakiti - 07/02/2026
- Ibu dan Manfaat Biji Labu Kuning yang Sering Disimpannya - 01/02/2026
- Pada Jembatan Bambu Itu - 25/01/2026
Klikhijau.com – Suatu hari, saya bergerak ke arah Kabupaten Maros dari arah Kota Makassar. Tujuannya adalah Taman Prasejarah Leang-leang, yang juga dikenal dengan nama Taman Purbakala Leang-leang
Taman ini menjadi salah satu destinasi wisata andalan Maros, terletak sebelum air terjun Bantimurung.
Keinginan melihat lukisan manusia purba di Leang-leang membuat saya menerabas terik matahari. Dengan tiket sepuluh ribu rupiah, saya berhasil masuk ke taman prasejarah itu. Saya datang sendiri.
Namun, sayangnya saya tidak berhasil melihat lukisan manusia purba. Gua tempat lukisan berada terkunci rapat.
Dan hingga kini saya belum pernah melihatnya secara langsung. Bagaimana rupa lukisan yang juga dikenal dengan istilah seni cadas atau rock art.
Seni cadas dibuat oleh manusia purba (manusia prasejarah) di dinding gua atau ceruk, tebing, dan batu.
Seni cadas telah bertahan ribuan tahun melawan perubahan zaman. Namun, ada laporan yang mengungkapkan jika pemanasan global mungkin adalah kematian atau akhir dari seni cadas.
Saat terjadi peristiwa cuaca ekstrem seperti kebakaran, angin topan, banjir, dan erosi meningkat, maka seni cadas sangat mungkin memudar dan menghilang.
Sebuah laporan pada gelaran simposium baru-baru ini menyatakan bahwa kerusakan itu saat ini tidak dapat dipulihkan.
Simposium diadakan di Universitas Flinders di Adelaide, Australia, yang didorong oleh laporan dari Panel Antarpemerintah tentang perubahan Iklim.
Memiliki kekuatan estetika
Menurut laporan tersebut, suhu global kemungkinan akan naik di atas target 1,5 derajat Celcius dari Perjanjian Paris. Itu akan membuat cuaca lebih ekstrem dan dapat merusak seni cadas.
Jika hal itu terjadi, bisa saja saya dan Anda yang belum pernah sekalipun melihat secara langsung seni cadas akan kehilangan kesempatan melihatnya.
Seni cadas ini ditemukan di seluruh dunia dan terdiri dari lukisan, ukiran, gambar, stensil, cetak dan ukiran. Mereka ditemukan di dalam gua dan di bebatuan, di dinding tebing dan di atas bebatuan.
Lukisan ini memiliki kekuatan estetika dan spiritual. Keberadaannya yang awet dapat memberikan wawasan tentang kehidupan kelompok Pribumi di seluruh dunia.
Misalnya di Australia dan Afrika yang masing-masing memiliki setidaknya 100.000 situs seni cadas, beberapa di antaranya berusia 28.000 tahun.
Sementara di India, Cina, Siberia, Meksiko, dan Prancis hanyalah beberapa tempat di mana seni cadas bertahan.
Dr. Jillian Huntley, seorang ilmuwan arkeologi di Griffith University, mempelajari seni cadas Australasia. Fokusnya membentang dari Australia hingga ke Indonesia–dengan penekanan pada Sulawesi.
Huntley telah memperhatikan bahwa perubahan cuaca membuat kristal garam mengembang dan menyusut. Itu menyebabkan batu runtuh. Beberapa lukisan tertua di dunia terancam hilang.
“Peningkatan suhu itu dirasakan tiga kali lipat di seluruh dunia,” kata Huntley, seperti dilansir dari Inhabitat.
Huntley memperingkatkan bahwa pemanasan 2,4C akan menjadi pemanasan 6C di daerah tropis, yang akan benar-benar bencana. Dan kita tidak punya waktu untuk menunggu.
“Tidak ada nol bersih pada tahun 2050, Net nol sesegera mungkin,” ujarnya.
Sebenarnya bencana alam, fluktuasi cuaca dan iklim bukanlah hal baru yang dihadapai dunia ini. Namun, teknologi manusia meningkatkan dan menyebabkan planet dalam masalah, termasuk Adat seni cadas menuju bencana kehancurannya.
“Hari ini, kita berada dalam semacam situasi kritis atau titik kritis,” kata Daryl Wesley, seorang arkeolog di Flinders.
Wesley telah mempelajari kehancuran yang ditimbulkan pada seni cadas oleh salah satu siklon tropis terburuk di Australia.
Pemanasan global memang menjadi ancaman serius bagi Bumi, sejarah dan seluruh makhluk hidup. Karena itu kita harus bergerak bersama untuk memeranginya agar tidak semakin mengancam kehidupan.








