Seberapa Siap Industri Pariwisata Memasuki Era New Normal?

Klikhijau.com – Industri pariwisata menjadi sektor yang paling terpukul selama penyebaran covid-19. Pariwisata tidak hanya lumpuh total, tetapi juga mengalami banyak kerugian. Tak cukup sampai di s...

Seberapa Siap Industri Pariwisata Memasuki Era New Normal?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Industri pariwisata menjadi sektor yang paling terpukul selama penyebaran covid-19. Pariwisata tidak hanya lumpuh total, tetapi juga mengalami banyak kerugian.

Tak cukup sampai di situ, sektor ini juga harus beradaptasi kembali seperti bayi yang belajar berjalan untuk bisa bertumbuh lagi di era new normal.

Padahal sebelum ada pandemi, secara global industri pariwisata sedang membaik setidaknya dalam 3 dekade terakhir.

Pariwisata bahkan menjadi salah satu sektor yang paling berpengaruh di banyak Negara, termasuk Indonesia. Sektor ini berkontribusi sebesar 35 persen terhadap trade. Sektor ini juga berkontribusi pada 10 persen dari pendapatan per kapita global.

Namun, tren positif ini berubah dalam sekejap mata akibat pandemi. Industri pariwisata tumbang dan agar bisa bangkit, tentu harus bisa melakukan banyak penyesuaian.

Oleh sebab itu, diperlukan strategi baru yang  sangat serius demi kebangkitan kembali sektor pariwisata di fase new normal. Itulah espektasi bersama yang mewarnai diskusi Webinar “The Indonesian Forum” yang digelar The Indonesian Institute (TII), Kamis 18 Juni 2020. Dengan tema “Siapkah industri pariwisata memasuki era new normal?

Sebuah tema yang menarik dan relevan dengan konteks saat ini, dimana setelah terjungkal habis, industri pariwisata sedang berjuang bangkit lagi. Era new normal atau fase kenormalan baru akan memungkinkan bangunnya kembali sektor strategis ini dengan berbagai catatan.

Pariwisata yang terjung bebas

Rifki Fadillah, Peneliti Bidang Ekonomi TII sebagai narasumber pada Webinar ini menunjukkan data anjloknya industri pariwisata. Industri penerbangan sebagai sektor turunan dari pariwisata yang pertama kali mengalami penurunan pendapatan. Tidak main-main, penurunan industri penerbangan di tahun 2020, kata Rifki mencapai angka 252 Miliar USD.

“Hingga Maret 2020, penurunan jumlah penerbangan domestik mencapai 24,09 persen. Sedangkan, pada sektor perhotelan, kerugian rata-rata secara global mencapai lebih dari 50 persen. Sementara di Indonesia, tingkat penghunian kamar hotel juga menurun sebesar 16,98 persen. Dengan penurunan terparah ada di Provinsi Papua Barat,” jelas Rifki.

Hal yang sama dikatakan Rianto Sofyan, Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia.

Sofyan menjabarkan adanya penurunan kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2020 sebesar -64,11 persen.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2