Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Sebab Angin Tak Mengenal Wangi Tubuhmu

Sebab Angin Tak Mengenal Wangi Tubuhmu   Angin bulan Desember biasanya bertiup agak kencang, katamu sembari mengalungkan tanganmu di pundakku. Bulan yang senantiasa ingin kuhilangkan dari...

Oleh Nona Reni 20 Aug 2021 23:30 2 menit baca

Sebab Angin Tak Mengenal Wangi Tubuhmu

  Angin bulan Desember biasanya bertiup agak kencang, katamu sembari mengalungkan tanganmu di pundakku. Bulan yang senantiasa ingin kuhilangkan dari kalender tersebab tak mampu melihat salju dari negeri tetangga. Bulan yang senantiasa menambahkan pekerjaan baru untuk membereskan halaman dari daun gugur Dan juga ingatan panjang tentangmu. Namun, bukankah merutuki angin sama saja merutuki takdir? Apakah kita tidak akan lebih sabar dari nelayan yang gagal melaut? Apakah kita tidak akan lebih sabar dari isi perut yang jarang diberi isi? Ataukah kalah menghadapi tangis anak-istri? Tidak kah kita tahu bahwa angin tak pernah ingin dijadikan sahabat Bahkan ia tak seperti anjing yang mengenal bau tubuh tuannya dengan sempurna. Maka biarkan dia berkeliaran, tanpa harus menarik tali kekang. Agustus 21
=====
[irp]

Tumbuhlah!

  Agustus katamu bulan terbaik untuk menumbuhkan sesuatu. Darah pejuang menjadi wangi, begitupun warna merah menjadi lebih berani. Lalu putih? Seperti awan-awan itu, yang katamu pandai menafsirkan cuaca. Tapi.... Apa yang coba mereka tumbuhkan di bumi yang tandus ini? Amarah? Kesedihan? Kebodohan? Atau sesuatu yang belum Tuhan berikan nama? Lalu apa yang besok akan tumbuh begitu semua bibit telah habis mereka semai? Jagungkah? Padikah? Ataukah keadilan yang dapat digadai dalam segelas kopi dan juga rasa lapar? Kurasa aku terlalu banyak bertanya Dan kau tidak akan dapat menjawab apa-apa Maka biarkan aku mengutuk bumi dan apapun yang mereka tanam. Maka tumbuhlah! Meskipun kau tak menemukan tanah untuk itu.
=====
[irp]

Pada Puncak Peradaban

  Begitu pena memulai kata dari kapital, maka kertas tak lagi mampu meloloskan diri darinya. Buku-buku akan menumpuk memenuhi lemari, yang sewaktu-waktu akan menjadi pesawat terbang di tangan-tangan mungil anak tetangga. Kita pernah sama bermimpi, membangun taman baca pada satu puncak gunung di desa. Lalu menamainya dengan sesuatu yang memang pantas untuknya. Lalu satu pertanyaan singkat terlintas dalam kepalaku Kau pernah melihat puncak gunung, bukan? Tinggi menjulang. Seakan-akan ia ingin menantang langit. Tapi manusia bahkan bisa melampaui terjalnya. Bahkan Fir'aun pun pernah berkeras akan membangun istana setinggi langit. Namun, kadang kala kita harus menyerahkan kembali pengetahuan ke alam liar. Sebab pada akhirnya manusia akan seperti hewan buas, saling menyakiti satu sama lain ketika rasa lapar melanda Agustus 21 [irp]
Topik terkait
#puisi #sastra hijau #puisi dan ekologis #sastra ekologi #sastra dan lingkungan