Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam

Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam
Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam. - Foto: Andi Fitrah Maulana/Klikhijau
Bacakan Artikel

Menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari kawasan hutan yang jauh.

Ia dapat dimulai dari halaman pesantren.

Dari kamar.

Dari tempat sampah.

Dari pohon yang tumbuh di lingkungan Pondok Pesantren (sekolah).

Dari kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan.

Kesadaran semacam itu memang tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan deforestasi atau kebakaran hutan. Tetapi ia menjadi bagian dari pembentukan perilaku yang membuat isu lingkungan tidak berhenti sebagai pengetahuan.

Dari Menjaga Kebersihan ke Dakwah Ekologis

Bagi pesantren, pendidikan lingkungan memiliki ruang yang lebih luas karena pendidikan berlangsung bersamaan dengan pembentukan karakter dan nilai keagamaan.

Ridhwan menyebut menjaga kebersihan sebagai kewajiban dan amanah yang diberikan Allah SWT.

Pernyataan tersebut menyatakan konteks penting melalui pendekatan ekoteologi.

Di lingkungan pesantren, kepedulian terhadap alam dapat dibicarakan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan santri, amanah, tanggung jawab, kebersihan, dan kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.

Di titik inilah gagasan tentang dakwah ekologis menemukan relevansinya.

Dakwah tidak selalu hadir dalam bentuk ceramah.

Ia dapat hadir dalam kebiasaan.

Santri yang menjaga kebersihan lingkungan sedang belajar bertanggung jawab terhadap ruang hidup bersama. Santri yang merawat pohon belajar tentang kesabaran dan keberlanjutan. Santri yang memilah sampah belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.

Dengan cara pandang tersebut, pendidikan lingkungan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.

Bukan karena setiap kegiatan lingkungan harus diberi label dakwah, tetapi karena pesantren memiliki ruang pendidikan yang memungkinkan nilai tentang tanggung jawab terhadap alam diterjemahkan menjadi tindakan sehari-hari.

Deklarasi Hanya Awal

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kuis edukatif dan sesi Ceritakan Aksi Rimbamu.

Beberapa peserta diberi kesempatan menceritakan aksi sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga hutan dan lingkungan.

Setelah itu, deklarasi dibacakan.

Dan 1.000 bibit diserahkan.

Bibit tanaman MPTS tersebut terdiri atas salam, sirsak, jeruk nipis, dan nangka. Bibit berasal dari UPT Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah II.

Bagi Darul Arqam, penyerahan bibit memiliki arti tersendiri.

Ridhwan berharap kegiatan bersama Kementerian Kehutanan dan SMK Kehutanan Negeri Makassar dapat berlanjut. Ia juga berharap pesantren mendapat dukungan pohon untuk membuat lingkungan pesantren semakin rindang.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan membutuhkan kesinambungan.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: