Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam

Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam
Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam. - Foto: Andi Fitrah Maulana/Klikhijau
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Dari talkshow kehutanan hingga penyerahan 1.000 bibit, pesantren menjadi ruang untuk mempertemukan pendidikan lingkungan, pembentukan karakter santri, dan dakwah ekologis.

Ratusan santri Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Makassar berdiri bersama. Di hadapan mereka, Zaki Inklabi yang di dampingi Si Pongi (maskot nasional Manggala Agni), membacakan kalimat demi kalimat Deklarasi Santri Peduli Hutan.

โ€œDengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,โ€ para santri mengikuti ikrar itu.

Mereka berkomitmen mengenal, mencintai, dan menjaga hutan sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa dan sumber kehidupan. Mereka juga menyatakan kesediaan menjaga kelestarian lingkungan, tidak merusak alam, serta mencegah tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan hutan.

Deklarasi itu berlangsung dalam rangkaian Forester Goes to School di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Makassar, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Tetapi sebuah deklarasi selalu menyisakan pertanyaan yang lebih panjang daripada kalimat yang dibacakan, apa yang terjadi setelah ikrar selesai diucapkan?

Pertanyaan itu penting ketika yang dibicarakan adalah hutan.

Sebab menjaga hutan bukan pekerjaan sehari. Ia membutuhkan pengetahuan, kebiasaan, pengawasan, perawatan, dan generasi yang bersedia meneruskannya.

Di Darul Arqam, percakapan mengenai hutan kemudian menemukan ruang yang lebih dekat dengan kehidupan santri, pendidikan dan lingkungan pesantren.

Hutan Diperkenalkan kepada Generasi yang Akan Mewarisinya

Kegiatan tersebut digelar Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balai P2SDM) Wilayah VI bersama SMK Kehutanan Negeri Makassar sebagai bagian dari gerakan โ€œ81 Aksi Kehutanan untuk Kemerdekaan Indonesia, dari Hutan untuk Indonesiaโ€.

Salah satu bagian pentingnya adalah talkshow bertema โ€œGenerasi Muda dalam Pelestarian Hutanโ€.

Talkshow dipandu Ahmad Syihabi, Guru Madya SMK Kehutanan Makassar, dengan menghadirkan Dr. Indah Novita Dewi sebagai narasumber.

Peserta tidak hanya duduk mendengarkan.

Mereka diajak mengikuti dialog, polling, dan tanya jawab. Sebelumnya, mereka menyaksikan video mengenai kerusakan hutan serta kebakaran hutan dan lahan.

Cara ini membuat hutan dibicarakan dari jarak yang lebih dekat.

Hutan tidak diperkenalkan sebagai sekumpulan pohon yang berada jauh dari permukiman. Ia diperkenalkan sebagai sebuah ekosistem yang bekerja dalam kehidupan manusia.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan merupakan kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang berisi sumber daya alam hayati, didominasi pepohonan, dan berada dalam persekutuan dengan lingkungan alamnya.

"Luas hutan Indonesia mencapai sekitar 95,9 juta hektare, atau sekitar 51,9 persen dari luas daratan Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kehutanan 2024," terangย  Indah Novita.

Hutan menyerap karbon, mengatur tata air dan iklim, menjadi ruang hidup keanekaragaman hayati, menyediakan hasil hutan dan sumber penghidupan, sekaligus membantu menjaga tanah dan mencegah bencana.

Dengan kata lain, hutan bekerja bahkan ketika manusia tidak melihatnya.

Air yang digunakan sehari-hari memiliki hubungan dengan sistem tata air. Tanah yang menopang kehidupan memiliki hubungan dengan ekosistem. Tumbuhan dan satwa bergantung pada habitat. Iklim yang dirasakan manusia juga tidak terlepas dari kondisi lingkungan.

Maka ketika hutan rusak, dampaknya tidak berhenti di batas kawasan hutan.

Generasi muda perlu memahami hubungan tersebut karena merekalah yang akan hidup lebih lama dengan konsekuensi dari keputusan lingkungan yang dibuat hari ini.

Ancaman yang Tidak Selesai dengan Menanam Pohon

Materi yang disampaikan dalam talkshow juga membawa peserta pada persoalan yang lebih rumit.

Deforestasi dan alih fungsi lahan, kebakaran hutan dan lahan, perambahan dan pembalakan liar, perubahan iklim, serta rendahnya kesadaran masyarakat disebut sebagai sejumlah tantangan terhadap kelestarian hutan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: