Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam

Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam
Santri Darul Arqam Deklarasi Peduli Hutan, Menyiapkan Generasi Pewaris Alam. - Foto: Andi Fitrah Maulana/Klikhijau
Bacakan Artikel

Daftar itu menunjukkan satu hal: menjaga hutan tidak cukup dengan mengajak orang menanam pohon.

Penanaman memang bagian dari upaya pemulihan lingkungan. Tetapi hutan juga membutuhkan perlindungan, pengawasan, rehabilitasi, pendampingan masyarakat, pencegahan kebakaran, dan pengetahuan tentang bagaimana ekosistem bekerja.

Karena itu, generasi muda tidak cukup ditempatkan sebagai penerima pesan.

Mereka perlu mengenal ruang untuk mengambil bagian.

Peserta diperkenalkan pada berbagai jalur keterlibatan melalui pendidikan kejuruan, kegiatan kepemudaan, konservasi, hingga profesi kehutanan.

SMK Kehutanan Negeri Makassar menjadi salah satu ruang pendidikan yang memperkenalkan kompetensi kehutanan, praktik lapangan, konservasi, dan pengelolaan sumber daya hutan.

Sementara melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, generasi muda diperkenalkan dengan kegiatan seperti Peduli Cinta Alam (Forest Youth Verse), Wirausaha Kehutanan Kreatif, dan Saka Wana Bakti.

Hutan dengan demikian tidak hanya membutuhkan orang yang mencintainya.

Hutan juga membutuhkan orang yang memahami cara menjaganya.

Santri Melihat Orang-Orang yang Bekerja Menjaga Hutan

Pesan itu kemudian dibawa lebih dekat melalui lima booth profesi kehutanan.

Peserta dibagi ke dalam kelompok dan melakukan rotasi untuk mengenal Polisi Kehutanan, Manggala Agni, Pengendali Ekosistem Hutan, Penyuluh Kehutanan, serta alat praktik kehutanan.

Di sana, kehutanan tidak lagi menjadi istilah yang hanya terdengar dalam ruang kelas.

Ada Polisi Kehutanan yang berkaitan dengan perlindungan kawasan hutan, pengawasan peredaran hasil hutan, serta pencegahan dan penindakan kerusakan kehutanan.

Ada Manggala Agni yang berada di garis depan pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Ada Pengendali Ekosistem Hutan yang bekerja dalam perencanaan, rehabilitasi, dan pemulihan ekosistem hutan serta kawasan konservasi.

Ada pula Penyuluh Kehutanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat melalui sosialisasi dan pendampingan kelompok tani hutan.

Pengalaman tersebut memberi gambaran bahwa menjaga hutan merupakan pekerjaan dengan banyak pintu masuk.

Bagi santri yang sedang berada di bangku pendidikan, pengenalan ini membuka kemungkinan lain, kepedulian terhadap hutan tidak harus berhenti sebagai aktivitas sukarela. Ia juga dapat menjadi pilihan pendidikan dan profesi.

Kepedulian Lingkungan Bertemu Kehidupan Pesantren

Namun Darul Arqam bukan ruang yang sama sekali baru bagi isu lingkungan.

Wakil Mudir II Bidang Kepesantrenan, H.M. Ridhwan Hamzah, S.Th.I., mengatakan kegiatan ramah lingkungan telah sejak lama selalu diusahakan hadir dalam kehidupan santri.

โ€œKami wajibkan untuk senantiasa menjaga lingkungan dengan baik,โ€ kata Ridhwan.

Ia menyebut Jumat Bersih sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan santri di lingkungan pesantren maupun kamar (tidur).

Menurut Ridhwan, kegiatan tersebut tetap membutuhkan pendampingan agar kebersihan lingkungan dapat terjaga.

Pesantren juga telah memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah menjadi sampah organik, sampah daur ulang, dan sampah B3. Tempat sampah sesuai kategori telah disiapkan di kelas maupun asrama.

Di sini, isu kehutanan mulai bertemu dengan sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian santri.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: