Membaca Krisis dari Air, Pemuda Makassar Konsolidasi Menuntut Hak Ekologis Sungai

Membaca Krisis dari Air, Pemuda Makassar Konsolidasi Menuntut Hak Ekologis Sungai
Peserta Diskusi dan Nobar, Ade Saskia mengamati mikroplastik - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Air sungai tidak lagi mengalir membawa endapan lumpur, tetapi juga serpihan mikroplastik yang tak kasat mata. Realitas krisis perairan nasional inilah yang memicu gelombang diskusi puluhan pemuda dari berbagai komunitas lingkungan di Makassar saat berkumpul di Daur Baur Kafe, Makassar. Sabtu, 15 Agustus 2026.

Melalui pemutaran film dokumenter Sungai Plastik karya ECOTON, ruang diskusi berorientasi pada gagasan mendasar, sungai bukan tempat pembuangan limbah massal, melainkan entitas hidup yang memilik hak ekologis untuk dilindungi.

Dokumenter tersebut merangkum rekam jejak Ekspedisi Sungai Nusantara. Perjalanan selama satu tahun penuh menelusuri puluhan sungai strategis nasional mendokumentasikan tekanan berat terhadap ekosistem perairan. Limbah domestik, racun industri, hingga akumulasi sampah plastik terus menggerogoti kesehatan Daerah Aliran Sungai (DAS) di berbagai wilayah Indonesia.

Pendiri ECOTON, Prigi Arisandi, menegaskan pentingnya literasi warga dalam memahami pembagian kewenangan pengelolaan sungai. Tanpa pemahaman mendasar mengenai status administratif, apakah sungai berada di bawah wewenang pemerintah pusat, provinsi, atau kabupaten/kota, upaya pengawasan publik sering kali kandas.

"Kita harus tahu dulu sungai ini berada di bawah kewenangan siapa. Kalau kita memahami kelas sungainya, kita tahu kepada siapa kita harus menyampaikan aspirasi ketika terjadi pencemaran," tegas Prigi.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: