Sampah Plastik Jadi Lahan Nafkah Perempuan Myanmar
Klikhijau.com – Sampah, kata yang akrab di telinga untuk menggambar hal-hal yang tak berguna. Tapi, benarkah sampah memang tak berguna? Di tangan orang yang tak kreatif, sampah memang tak berguna, tap...
Klikhijau.com – Sampah, kata yang akrab di telinga untuk menggambar hal-hal yang tak berguna. Tapi, benarkah sampah memang tak berguna? Di tangan orang yang tak kreatif, sampah memang tak berguna, tapi di tangan orang yang kreatif sampah bisa jadi sumber rejeki, khususnya sampah plastik.
Tak peduli itu sampah organik atau anorganik. Sampah organik adalah sampah yang tak membahayakan lingkungan. Ia mudah terurai menyatu dengan tanah.
Namun, sampah anorganik, semisal sampah plastik dan sejenisnya adalah jenis sampah yang meresahkan. Dibutuhkan tangan-tangan kreatif untuk mengolanya agar tak terbuang percuma mencemari lingkungan.
[irp]
Seperti yang dilakukan sekelompok perempuan di Myanmar. Mereka menyulap sampah menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Reuters mengungkapkan jika ada sebuah bangunan di Myanma yang bernama Chuchu Design. Bangunan tersebut jika dilihat dari jauh tak lebih dari bangunan biasa. Namun, begitu dilihat dari dekat, tatapnya tdibuat dari ban bekas, dindingnya terbuat dari botol kaca dan penutup lampu dari plastik yang meleleh.
Bahan yang digunakan pun terbuat dari bahan daur ulang, yang bertujuan untuk mendidik masyarakat akan sampah.
Dari kejauhan, ChuChu Design, sebuah bangunan satu lantai di seberang sungai dari ibukota komersial Myanmar yang ramai, tampak seperti bangunan lain di pinggiran kota yang miskin.
ChuChu adalah rumah plastik yang menjual kerajinan tangan dan produk-produk fashion yang didaur ulang ribuan ton sampah yang dibuang setiap hari.
ChuChu didirikan oleh Wendy Neampui (68) pada tahun 2014 dengan bantuan organisasi nirlaba Italia, Cesvi.
“Saya ingin mengubah sampah dari tempat pembuangan sampah yang jelek menjadi barang-barang yang indah,” katanya.
Dalam video yang disiarkan Reuters, tampah Wendy memungut sampah bersama beberapa perempuan, kemudian mengangkutnya menggunakan gerobak.
[irp]