Sajak-sajak Yanuar Abdillah Setiadi

(1) Sepucuk Surat  Seandainya aku bisa menulis sebuah surat Maka, akan kutujukan suratku padamu kekasihku Muhammad. Diantara rona bintang pada malam hari, wajahmulah yang paling terang bahkan...

Sajak-sajak Yanuar Abdillah Setiadi
Bacakan Artikel
Yanuardi

Penyair dan Pegiat Sastra

Yanuardi

Artikel terbaru dari Yanuardi (lihat semua)

(1)
Sepucuk Surat 

Seandainya aku bisa menulis sebuah surat
Maka, akan kutujukan suratku padamu kekasihku
Muhammad.

Diantara rona bintang pada malam hari,
wajahmulah yang paling terang
bahkan seandainya gemintang itu saling bersatu
dalam terangnya cahaya
karena  aku yakin, engkaulah pantulan Maha Cahaya.

Dalam lautan batinku, ada beribu rahasia
Sirr yang tak bisa diungkapkan oleh debur kata
Muhammad, engkaulah sang penakluk gejolak badai batinku.

Aku tidak peduli dengan lilitan ular modern
banalitas viralitas yang kian membuat otak sengkarut
semua itu hanyalah wajah semu yang tidak memikat hatiku sama sekali.

Kekasihku, Muhammad.
Sudikah engkau menyebut namaku walau hanya sekejap
Semoga aku termasuk salah satu hamba
yang engkau sebut di penghujung hayatmu
“ummati, ummati, ummati”

Purbalingga, 2025

(2)
Renungan di Penghujung Malam

Secangkir kopi telah karam di bibirku
Sajak-sajak serupa pelaut yang tersesat
Tak tau arah, yang tersisa hanyalah aral

Malam ini, aku berandai menjadi seorang sufi
Pergi dari satu kota ke kota lain
Menertawakan kehidupan orang modern yang diatur rutinitas
Beberapa diantara kita adalah hantu di siang bolong
Gentayangan ke sana kemari tak tau arah.

Aku juga pernah berangan-angan
menjadi seekor ayam
yang bernyanyi merdu di pagi hari
tanpa ketakutan akan masa depan.

Aku ingin menjadi sesuatu yang lain
yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan.
Karena akhir-akhir ini, manusia lupa pada hakikatnya
Lupa pada akar kehidupan yang penuh cinta.

Purbalingga, 2025

(3)
Negeriku Yang Damai dan Permai Ternyata Hanyalah Mimpi Belaka

Pada hikayat nenek moyang
ada beribu hikmah mazmur yang terkandung  padanya
kisah tentang sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi
penduduk yang berselimutkan tentram dan beralaskan damai
cinta menjadi semboyan hidupnya
gotong-royong adalah aliran nafasnya
negeri dari timur yang penuh akan kebijaksanaan akan kehidupan
tata krama serupa payung yang meneduhkan setiap jiwa
masa depannya bukan kemajuan modern yang membinasakan
melainkan kearifan dalam bertindak dan berakhlak
negeri itu ada dalam bayang-bayang masa kanak-kanak

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2