- Sajak-sajak Yanuar Abdillah Setiadi - 18/01/2026
(1) Sepucuk Surat
Seandainya aku bisa menulis sebuah surat
Maka, akan kutujukan suratku padamu kekasihku
Muhammad.
Diantara rona bintang pada malam hari,
wajahmulah yang paling terang
bahkan seandainya gemintang itu saling bersatu
dalam terangnya cahaya
karena aku yakin, engkaulah pantulan Maha Cahaya.
Dalam lautan batinku, ada beribu rahasia
Sirr yang tak bisa diungkapkan oleh debur kata
Muhammad, engkaulah sang penakluk gejolak badai batinku.
Aku tidak peduli dengan lilitan ular modern
banalitas viralitas yang kian membuat otak sengkarut
semua itu hanyalah wajah semu yang tidak memikat hatiku sama sekali.
Kekasihku, Muhammad.
Sudikah engkau menyebut namaku walau hanya sekejap
Semoga aku termasuk salah satu hamba
yang engkau sebut di penghujung hayatmu
“ummati, ummati, ummati”
Purbalingga, 2025
(2) Renungan di Penghujung Malam
Secangkir kopi telah karam di bibirku
Sajak-sajak serupa pelaut yang tersesat
Tak tau arah, yang tersisa hanyalah aral
Malam ini, aku berandai menjadi seorang sufi
Pergi dari satu kota ke kota lain
Menertawakan kehidupan orang modern yang diatur rutinitas
Beberapa diantara kita adalah hantu di siang bolong
Gentayangan ke sana kemari tak tau arah.
Aku juga pernah berangan-angan
menjadi seekor ayam
yang bernyanyi merdu di pagi hari
tanpa ketakutan akan masa depan.
Aku ingin menjadi sesuatu yang lain
yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan.
Karena akhir-akhir ini, manusia lupa pada hakikatnya
Lupa pada akar kehidupan yang penuh cinta.
Purbalingga, 2025
(3) Negeriku Yang Damai dan Permai Ternyata Hanyalah Mimpi Belaka
Pada hikayat nenek moyang
ada beribu hikmah mazmur yang terkandung padanya
kisah tentang sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi
penduduk yang berselimutkan tentram dan beralaskan damai
cinta menjadi semboyan hidupnya
gotong-royong adalah aliran nafasnya
negeri dari timur yang penuh akan kebijaksanaan akan kehidupan
tata krama serupa payung yang meneduhkan setiap jiwa
masa depannya bukan kemajuan modern yang membinasakan
melainkan kearifan dalam bertindak dan berakhlak
negeri itu ada dalam bayang-bayang masa kanak-kanak
serupaya dongeng yang dibacakan menjelang kami redup dan tertidur
setelah kami beranjak dewasa
seperti orang yang dibangunkan dengan paksa
lantas harus menerima sebuah kenyaataan
bahwa negeri yang dikisahkan hanya sebatas
bayang-bayang semu yang disebut dengan angan-angan.
Purbalingga, 2025
(4) Rebahkanlah Lelahmu
Serupa tetumbuhan yang terkena badai hujan
ingin bersandar pada pundak bumi
yang teduhnya seperti kalam-kalam kyai.
Rebahkanlah lelahmu
pada dzat yang tak pernah goyah
ialah pundak kokoh yang menopang
keluh kesah hamba yang tak tau arah.
Purbalingga, 2025
(5) Narsis
Tuanku, Instagram
buatlah fotoku disukai banyak pengikut
syukur-syukur bisa nongol di puncak fyp.
Barangkali itulah caraku untuk menghibur
kesepianku yang kian modern dan angkuh.
Purbalingga, 2025
Tentang Penyair
Yanuar Abdillah Setiadi, Lahir di Purbalingga, 01 Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media di antaranya; mojok.co, maarifnujateng.or.id, Majalah An-Nuqtoh, litera.co.id, tajdid.id, mbludus.com, ruangjaga.com, sukusastra.com, gokenje.my.id, dan geger.id. Kontributor “Covid-19 Pandemi Dunia” (2020), “Lintang 3” (2020), dan “Di Ujung Tanjung” (2020). Instagram: @yanuarabdillahsetiadi. WA: 085723806525.








