Tiga Ngengat Jenis Baru Ditemukan Peneliti BRIN, Satu di Antaranya Mengancam Petani Cengkeh

Klikhijau.com – Ngengat merupakan jenis serangga nocturnal atau yang aktivitasnya banyak dilakukan pada malam hari. Kehadirannya sangat dibutuhkan sebagai penyerbuk. Perannya penting dalam menjaga...

Tiga Ngengat Jenis Baru Ditemukan Peneliti BRIN, Satu di Antaranya Mengancam Petani Cengkeh
Bacakan Artikel

“Pada tahun 2023 aktivitas serangan (hewan) tersebut pernah menyebabkan kerusakan yang bervariasi pada tanaman cengkeh di lima kecamatan Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Infestasinya mengakibatkan kerusakan cabang dan ranting yang menyebabkan penurunan densitas daun pada tanaman cengkeh,” jelas Hari.

Peneliti PRBE BRIN lainnya,  Pramesa Naraxmo mengatakan, larva spesies ini terpantau mengganggu tanaman cengkeh di Pulau Sangihe sejak tahun 2016, dan sebaran spesies ini akan terus meningkat hingga tahun 2023.

Pramesa juga mengatakan bahwa ngengat berwarna coklat tua ini, dengan ciri diagnostiknya yang paling khas, tampaknya memiliki struktur padat pada organ reproduksinya.

Selain itu, kode batang DNA menunjukkan bahwa spesies baru ini berkerabat dengan spesies Cryptophasa lainnya, yang memiliki antena jantan  mirip dengan genus Pararecta.

Detail fisik  spesies baru ini dibahas dalam jurnal Zootaxa Volume 5403 Edisi 1. Terbit pada 18 Januari 2024.

Sementara itu, Jackson F. Watun, dosen Universitas Sam Ratulangi, mengatakan timnya baru-baru ini  menemukan bahwa Cryptophasa warouwi tidak hanya menyerang tanaman anyelir, tetapi juga  tanaman jambu air dan jambu biji (Myrtaceae), jelasnya.

“Ancaman ini dapat dikategorikan sebagai serangan serangga hama oligofag, sehingga sangat penting untuk segera mengembangkan rencana strategi pengendalian hama, analisis risiko hama, menyusun daftar hama karantina, dan manajemen pengelolaan hama lainnya,” ujar Jackson.

Berguna untuk pengendalian hama di masa depan

Untuk dua spesies ngengat baru lagi, yaitu Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae, diterbitkan dalam jurnal Zootaxa pada tanggal 23 Maret, berdasarkan hasil analisis morfologi yang dilakukan bersama oleh peneliti BRIN dan Universitas Sam Ratulangi dinyatakan sebagai taksa baru dalam jurnal Zootaxa Volume 5403 Nomor 4 pada 23 Januari 2024.

“Total Glyphodes yang tercatat di Indonesia saat ini berjumlah 48 buah. Publikasi terakhir tentang spesies Glyphodes dari Papua dan Sulawesi dipublikasikan Munroe pada tahun 1960. Sejak saat itu tidak ada lagi spesies yang dideskripsikan dari wilayah ini,” imbuh  Pramesa.

Pramesa juga mencatat bahwa hasil ini menambah aspek baru pada kriteria morfologi untuk mengklasifikasikan spesies Glyphodes dan mendukung studi morfologi yang komprehensif dalam menyempurnakan taksonomi dan filogenetik genus ini.

Menekankan ciri-ciri reproduksi dan mengidentifikasi potensi ciri-ciri diagnostik baru akan berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang keanekaragaman glifod.

Menurut Pramesa, penemuan ketiga spesies ngengat ini tentunya akan memperkuat pengetahuan sistematis yang akan berguna dalam banyak kasus pengendalian hama di masa depan. (*)

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2