Tidak Ada Senja di Hutan Camba

Sore itu Firman mampir di sebuah warung, perbatasan Bone-Maros setelah perjalanan yang cukup lama. Ia berangkat dari Bone kota, dari pukul dua siang. Harusnya sudah tiba di Makassar sebelum Magrib, ta...

Tidak Ada Senja di Hutan Camba
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

Firman sepertinya menyimpan sesuatu yang belum bisa diungkapkannya sekarang tentang Tenri. Lelaki berambut gondrong itu seperti didesak rasa penasaran yang berlebihan. Harus menemui Tenri malam ini. Titik.

“Kita ketemu sebentar jam 8 di kafe Mizuta. Penting.” Begitu isi chat Tenri ke Firman.

Entah kenapa kata-kata Tenri selalu menjadi kata perintah yang tidak bisa ditolak oleh Firman. Ia terlihat begitu payah dan selalu mengikuti kemauan Tenri.

Menyadari senja tidak akan ada di Camba, ia mempercepat laju kendaraannya yang sebentar lagi malam. Firman sebenarnya bukanlah lelaki senja ataupun gerimis. Ia orangnya datar-datar saja. Namun semenjak mengenal Tenri, ia belajar mengenal apa itu senja. Meskipun sampai sekarang ia tidak tahu apa maknanya. Ia bukan orang yang puitis apalagi romantis. Apa karena ia dari jurusan Matematika murni. Bisa dibilang ia pendukung bumi datar, bukan bulat. Baginya keindahan hanyalah melihat wajah Tenri, bukan senja. Perempuan yang memiliki lesung pipi di pipi kanannya itu.

Tenri dan Teori Al Jabbar tentang persamaan, sama rumitnya. Hanya saja mempelajari Tenri jauh lebih rumit dan tidak ada rumus paten untuk memecahkannya. Kepala Firman seperti hutan. Penuh belantara, kadang berlumut.

Dan lebih mengherankan lagi Tenri adalah anak kehutanan sementara ayah Tenri adalah seorang guru yang Hobbi berkebun.

Bagaimana mereka bisa saling mengenal masih menjadi sebuah misteri.

Malam itu Firman tiba di Antang dengan kuyup, mantel yang dikenakannya tidak cukup menahan hujan berjam-jam lamanya dan melewati jalan menuju kosnya yang penuh genangan karena drainase yang menyerah menahan luapan air hujan dan aliran air di situ-situ saja. Ia masih sempat ke kosnya mandi dan ganti baju.

Sesampainya di kafe, Tenri sudah ada lebih dulu di dalam. Ia sudah memesan cappucino milk toping ice cream. Ia menikmati kopinya di cuaca dingin seperti ini sambil sesekali melihat jam di tangannya. Dilihatnya bibir Tenri yang dilapisi gincu tertutupi toping ice cream. Firman telat lima menit.

“Kenapa lama sekali?”

Lima menit bagi Tenri adalah waktu yang cukup panjang untuk menunggu. Sementara bagi Firman itu waktu yang sudah sangat cepat setelah berjam-jam menembus hujan dan melewati hutan, jalan yang menikung.

Firman percaya pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban.

Tempat yang dulu selalu menjadi tempat mereka bertukar pikiran, acara bukber teman posko KKN, dan kegiatan-kegiatan lainnya berubah mendadak, menjadi tukar rasa dengan risau yang panjang.

***

“Bagaimana dengan kita, firman?”

“Bagaimana maksudnya, Ri?”

“Ya, sudah.”

“Sudah apanya?”

“Dasar bodoh,”

“Saya sudah dilamar, tidak lama lagi saya akan menikah.”

Ooh, ternyata Firman dan Tenri menjalin hubungan yang aneh. Tidak pernah saling mengungkapkan perasaan, namun saling menjaga rasa. Saling menyimpan.

Entah kenapa mendengar ucapan Tenri, tiba-tiba Firman merindukan masakan ibunya, sayur asam belimbing dan lawara.

Baru saya ingat peristiwa itu, sini saya ceritakan. Firman dan Tenri bertemu di tempat KKN, ditempatkan di lokasi dan posko yang sama di Soppeng. Membuat mereka akrab selama dua bulan itu. Menjalankan program kerja, diskusi dan lain-lainnya. Hanya karena sering dibuatkan teh di pagi hari oleh Terni, sebenarnya Firmannya yang terlalu percaya diri, padahal itu untuk semuanya. Firman jatuh hati. Tetapi tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Yang diperagakan hanyalah gimik. Tempat yang selalu diingatnya yang menyimpan banyak kenangan. Tenri sebagai perempuan yang tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, ia tidak ingin berpacaran. Ia ingin lansung ta’aruf dan menikah. Namun ia mesti diperhadapkan dengan lelaki yang lebih hutan daripada hutan itu sendiri.

Menyingkat cerita

Pernah suatu ketika Tenri dengan perasaan yang tergantung dan sudah dua kali Ia mengirim pesan melalui Instagram di bulan yang berbeda di tahun yang sama di 2023.

“Tidak mau datang ke rumah.”

Sinyal berkekuatan kuat itu harusnya bisa ditangkap oleh Firman. Tetapi sialnya, Firman memang betul-betul datang ke rumah Tenri di Sinjai. Betul-betul ia hanya untuk bertamu dan ngobrol ringan saja dengan orang tua Tenri. Tidak ada hal penting yang dibicarakan selain skripsi. Padahal Ayah Tenri sudah memancing rasa ingin tahunya. Dasar batu gunung. Kemampuan berpikir, rasa dan hatinya tidak berfungsi dengan baik jika berhadapan dengan urusan seperti ini.

****

“Lalu saya harus bagaimana Tenri?”

Tenri terus menanti tetapi lelaki di hadapannya hanya kayu mati. Perempuan yang telah lama menanti itu menangis.

“Sudah, saya akan menikah dengan orang yang baru saja datang melamar saya.”

“Saya minta maaf Tenri, saya tidak tahu apa yang mau saya bilang. Saat itu saya belum siap, ini belum juga selesai kuliah.”

“Ternyata kamu bisa bicara, tapi tidak peka. Bulan depan acaranya.”

“Kalau begitu biarkan saya menjadi lelaki yang tetap…,”

Firman mengambil nafas sepertinya ada yang mengganjal di tenggorokannya.

“Mencintaimu meski kamu sudah menikah.”

“Berarti selama ini kamu mencintai saya?”

“Orang bodoh,” ucap Tenri.

Setelah dua tahun lebih menjalani kisah yang aneh itu, malam itu di kafe Mizuta, Cinta yang sama-sama tumbuh di balik rindang pohon Bulu Dua Soppeng seperti menemui muaranya bagai air yang mengalir dari gunung di Bulu Dua. Bertahun-tahun disimpannya dalam dada bagai orang yang tersesat dalam hutan mencari arah terbitnya matahari. Entah siapa yang memulai kisah yang bodoh ini. Bukan Beatrice dan Dante, Cleopatra dan Mark Antony. Bukan juga Jamil dan Buthainah. Bukan. Akhirnya mereka saling mengakui perasaan mereka masing-masing. Kisah itu terlalu jauh bagi pria nomaden yang kini tinggal di Antang. Kisah ini lahir seperti bunga liar yang tumbuh di antara beton-beton.

Dan kamu tahu apa yang selanjutnya terjadi?

Mereka sepakat..

(Yah, pembaca bisa menentukan sendiri)

Tenri mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ternyata buku dan diletakkannya di meja untuk Firman, Musim Bunga yang Bisu karya Rachel Carson untuk dibaca. Terselip sebuah undangan pernikahan. Ia lalu pergi seperti daun pisang yang tertiup angin sementara Firman tinggal diamuk sepi.

Makassar, 27 Januari 2024

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2