Tak Ada Pantai di Bira

 Yang paling ingin kulihat jika ke pantai Bira adalah pasirnya. Konon telah berubah jadi cokelat tanah. Tak ada yang tahu penyebabnya, tapi berita itu telah menggegerkan seisi kampung. Bagaimana mu...

Tak Ada Pantai di Bira
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

"Barangkali itu gigi raksasa yang dikalahkan penunggu Bira, atau penunggu Bira menahan ombak yang besar hingga giginya ompong, hingga gusinya berdarah, darahnya itulah yg menyebabkan pasirnya yang putih berubah coklat tanah"

"Masuk akal juga analisismu,” puji istrinya.

“Atau mungkin saja tanah gunung Lompobattang yang telah kehilangan pepohonannya terseret ke sana,” lanjut suaminya.

“Ini paling mungkin,” jawab istrinya.

Aku tak mendengar kelanjutan percakapan mereka. Hujan mereda berubah gerimis. Aku segera meninggalkan kolong rumah panggung itu. Membunyikan motor tergesa lalu melesap menjauh.

Rasa penasaranku membukit, tentang kebenaran cerita itu. Di sebuah tanjakan, tak terlalu jauh dari pantai Bira. Ban depan motorku tetiba lepas. Lalu menggelinding.

Aku mengejarnya, semakin aku dekat, roda itu semakin menggelinding cepat. Aku terus mengejarnya, aku nyaris kehilangan napas. Ban motor itu terus saja menggelinding ke pantai Bira.

Aku terus mengejarnya, terus saja, ban itu akan berhenti di pantai—tak akan bisa menggelinding dalam pasir.

Namun, tak ada lagi pasir di Bira, tak ada lagi pantai, tak ada laut, hanya ada tanah cokelat tak berpenghuni.

Ban itu terus menggelinding dan aku terus saja mengejarnya. Terus menerus.

Kindang, 10/7/2016-2022

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2