Rumah Koran, Komunitas Literasi Lingkungan di Kaki Gunung Bawakaraeng

Klikhijau.com – Rumah Koran, sebuah komunitas literasi lingkungan di kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa. Di komunitas ini Anda akan menjumpai perpaduan antara literasi, pertanian dan lingkungan....

Rumah Koran, Komunitas Literasi Lingkungan di Kaki Gunung Bawakaraeng
Bacakan Artikel

Anak-anak petani saat ke Rumah Koran diarahkan membaca berita, sesuai tema yang ditentukan dan ditempel di  Bekas kandang bebek, sehingga tumbuh kebiasan membaca. Setelah mereka baca, dilanjutkan menulis hasil dari bacaannya.

Hasil tulisan tersebut disampaikan di hadapan temannya dan didiskusikan.

Jadi sudah masuk empat poin yakni kegiatan Membaca, menulis, berbicara dan menyimak (mendegarkan).

Mendorong literasi lingkungan

Selain itu, tujuan lahirnya Rumah Koran adalah sebagai wadah belajar bagi petani. Agar mereka bisa membaca alam/ Sumber Daya Alam mereka, agar bijak dalam mengelolanya.

Di mana Rumah Koran berada di bawah kaki Gunung Bawakaraeng yang memiliki potensi Alam Pertanian. Sehingga Literasi Lingkungan diperlukan, yaitu dengan arahan mereka menjadi petani Organik agar ekosistem keragaman hayati bisa terjaga.

Melalui pertanian organik para petani telah ikut serta menjaga lingkungan mereka, mereka sadar akan keselamatan kerja, dan pasar akan terbuka lebih luas.

Sehingga kehadiran Rumah Koran diharapkan mampu menjadi jalan yang terang buat para petani, di mana petani bisa menjadi petani literasi dan petani online.

[caption id="attachment_13199" align="alignnone" width="448"]Rumah koran Lahan pertanian organik di Komunitas Rumah Koran-Foto/Ist[/caption]

Setelah mereka selesai membaca berita dan buku mereka bisa lebih mengetahui konsep-konsep mandiri dan berdaya saing, yakni bisa memasarkan hasil pertanian mereka tanpa di permainan oleh tengkulak

Rumah Koran saat ini fokus kepada tiga poin kemajuan yaitu; pendidikan, lingkungan dan ekonomi.

“Ada tiga aspek yang ingin kami kombinasikan. Pertama Pendidikan Petani, menjaga lingkungan dan ekonomi,” kata Jamaluddin.

Pendidikan tercipta dari kebiasaan berdiskusi dan membaca. Dengan cara ini, masyarakat memiliki perubahan pola pikir sebagai petani.

Kedua Menjaga Lingkungan, melalui Kesadaran dan hasil kajian perbandingan antara pertanian anorganik dan organik diharapkan para petani bisa ikut serta menjaga lingkungan mereka.

Selain itu menjaga mata air dengan melakukan penanaman pohon dan menjaga hutan menjadi bagian dari literasi lingkungan. Bersih-bersih sungai juga menjadi kegiatan rutin untuk menjaga sungai agar tidak tercemari dahu.

Ketiga ekonomi, melalui SDM Yang unggul melalui literasi dan pola pikir bahwa petani harus sekolah akan membawa pertanian jauh lebih menarik dan keren. Hingga akhirnya membuat petani bisa mandiri memasarkan hasil pertanian mereka.

Kini, Rumah Koran terus berbenah dan berkembang menjadi lokasi wisata edukasi. “Siapa pun bisa membuat kegiatan di Rumah Koran atau di kampung sayur, seperti pengkaderan kemah literasi, studi lapang dan lainnya,” kata Jamaluddin.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2