Psikiater Ungkap 3 Masalah Kesehatan Mental di Tengah Covid-19

Klikhijau.com – Semakin lama Covid-19 menyurut, akan semakin berdampak pula bagi kesehatan, termasuk kesehatan mental masyarakat. Perihal ini, psikiater Universitas Gadja Mada (UGM), Ronny Tri Wirasto...

Psikiater Ungkap 3 Masalah Kesehatan Mental di Tengah Covid-19
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Semakin lama Covid-19 menyurut, akan semakin berdampak pula bagi kesehatan, termasuk kesehatan mental masyarakat. Perihal ini, psikiater Universitas Gadja Mada (UGM), Ronny Tri Wirasto mengungkapkan terjadi masalah besar bagi  kesehatan mental di tengah terjangan pandemi.

Hingga saat ini memang pandemi Covid-19 masih bebal. Belum juga surut menjangkiti manusia. Telah banyak permasalahan yang ditimbulkan. Masalah kesehatan mental salah satunya.

Menurut pakar Kesehatan Jiwa UGM itu ada 3 permasalaha besar bagi kesehatan mental masyarakat yang sedang mengintai, apalagi  jika Covid-19 tidak segera berakhir.

Hal itu tentu saja cukup meresahkan, sebab berdampak buruk bagi tatanan kehidupan. Apalagi  saat ini semua orang sedang berjuang keluar dari situasi yang sulit ini.

Ini ke tiga permasalahan yang dimaksud itu oleh psikiater UGM tersebut:



  • Kekerasan dalam keluarga



Ronny menjelaskan pembatasan sosial berpengaruh pada kesehatan mental. Hal itu karena manusia harus beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Kita semua punya pengalaman sebelum pandemik, kita bebas berenteraksi dengan siapa saja dan kapan saja. Tak ada rasa was-was yang menghantui.

Namun, situasi saat ini sangat jauh berbeda. Ruang interaksi kita terbatas dengan orang lain. Apalagi jika orang tersebut termasuk orang baru yang kita temui.

Situasi ini menurut psikiater UGM itu, bukanlah hal yang mudah, terlebih di tengah suasana yang penuh dengan ketidakpastian.

Hal itu akan memunculkan rasa cemas, khawatir, ketakutan, stres, hingga depresi.  Kondisi mental menjadi lebih rentan atau labil. Keadaan itu tak jarang memicu perilaku kekerasan di dalam keluarga.

"Pertama, pembatasan sosial atau social distancing dan kecenderungan mental yang rentan hingga rentan terjadi kekerasan dalam keluarga," tuturnya seperti dikutip dilaman resmi UGM.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2