Potong Rantai Limbah dari Dapur, Dua RT di Kalukuang Targetkan Zero Waste

Klikhijau.com - Komitmen menuju lingkungan tanpa limbah (zero waste) bukan lagi sekadar wacana di tingkat kota. Di Kelurahan Kalukuang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, warga di dua Rukun Tetangga (RT)...

Potong Rantai Limbah dari Dapur, Dua RT di Kalukuang Targetkan Zero Waste
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Komitmen menuju lingkungan tanpa limbah (zero waste) bukan lagi sekadar wacana di tingkat kota. Di Kelurahan Kalukuang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, warga di dua Rukun Tetangga (RT), yakni RT 02 dan RT 03 di wilayah RW 03, mulai mengambil langkah konkret untuk memotong rantai penumpukan sampah langsung dari sumbernya, dapur rumah tangga.

Sebagai langkah awal, warga menginisiasi kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah organik pada Minggu (21/6/2026). Tidak tanggung-tanggung, gerakan swadaya ini menggandeng aktivis lingkungan dari Yayasan Pabbata Ummi Indonesia (Yapta UI) Edufarm serta penyuluh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar.

Maggot Sebagai Solusi Tercepat

Ketua RT 02 RW 03 Kelurahan Kalukuang, Risma Asriani Azis G., yang didampingi Ketua RT 03, Hj. Nurhana, menegaskan bahwa sosialisasi ini merupakan fondasi dari komitmen kolektif warga. Gerakan ini sengaja dirancang untuk menyelaraskan diri dengan visi besar Pemerintah Kota Makassar dalam program "Makassar Bebas Sampah".

"Hari ini kita melakukan sosialisasi dulu, selanjutnya ada pendampingan," ujar Risma.

Menurut Risma, fokus utama warga saat ini adalah menemukan formula tercepat untuk mengurai limbah basah atau sampah organik rumah tangga agar tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

[irp]

"Caranya, ya kita melakukan penguraian dengan larva maggot. Nah, sekarang kita hadirkan aktivis lingkungan, Kak Makmur, untuk menjelaskan tentang budidaya hewan pengurai sampah tercepat ini," jelasnya.

Kedepannya, program ini tidak hanya berhenti pada budidaya maggot. Warga Kalukuang juga akan didorong untuk mempraktikkan penanaman sayuran, pembuatan kompos mandiri, serta pemilahan sampah organik dan anorganik secara disiplin. Rangkaian aksi ini diharapkan mampu mengikis volume sampah yang saban hari memperparah beban TPA Tamangapa Antang.

Pelajaran Berharga dari 30 Tahun Tumpukan Antang

Inisiatif warga ini mendapat apresiasi tinggi dari Direktur Yapta UI Edufarm, Makmur, S.Sos. Pria yang akrab disapa Kak Makmur ini menekankan bahwa partisipasi akar rumput seperti di Kalukuang adalah kunci utama penyelesaian krisis sampah perkotaan.

Bukan tanpa alasan Makmur begitu getol mengampanyekan penguraian sampah organik. Berdasarkan pengalamannya beraktivitas di TPA Tamangapa selama lebih dari tiga dekade, ia menyaksikan sendiri bagaimana gunungan sampah setinggi bukit terbentuk akibat kegagalan mengelola sampah organik sejak dari rumah.

[irp]

"Kami lihat sendiri proses pembuangan sampah ini selama kurang lebih 30 tahun kami beraktivitas di TPA Antang," ungkap Makmur.

Ketika sampah organik yang basah bercampur baur dengan plastik, kertas, dan logam di TPA, proses pembusukan menjadi tidak sempurna dan justru menimbulkan masalah lingkungan baru yang rumit. Padahal, porsi sampah organik mendominasi sekitar 50 hingga 70 persen dari total timbulan sampah yang dibuang ke TPA Antang.

Mengubah Masalah Menjadi Nilai Ekonomi

Berangkat dari realitas tersebut, Yapta UI—yang awalnya bergerak pada isu perlindungan anak, perempuan, dan pendampingan keluarga pemulung, kini memperluas kepakan sayapnya ke ranah ekologi lewat unit bisnis Yapta UI Edufarm.

Melalui unit ini, mereka menjinakkan limbah organik menggunakan maggot (Black Soldier Fly), yang disebut Makmur sebagai monster pengurai alami.

"Larva ini mampu mengurai sampah ratusan kilogram per hari, atau bisa mencapai hitungan ton sampah dalam sebulan," urai Makmur.

Bagi Makmur, edukasi dan pemanfaatan maggot di tingkat rumah tangga sudah berada pada taraf mendesak. Menariknya, solusi ekologis ini juga menyimpan potensi sirkular yang menguntungkan. Selain mereduksi sampah secara signifikan, maggot yang kaya protein dapat dipanen sebagai pakan alternatif bernilai tinggi untuk ternak dan ikan.

"Kami siap membantu mengedukasi dan bekerja sama dengan semua pihak untuk mempercepat penguraian sampah organik ini. Kami akan bagi caranya kepada masyarakat," pungkas Makmur optimis, menandai babak baru kolaborasi hijau demi langit Makassar yang lebih bersih.