Perihal Hydroseeding, Metode Penanaman Cepat pada Area Luas dan Sulit Terjangkau

Klikhijau.com - Hydroseeding berasal dari dua kata, yakni hydro dan seeding yang berarti campuran antara air dan benih. Benih yang dimaksud adalah benih dalam bentuk biji. Air dan benih tersebut di...

Perihal Hydroseeding, Metode Penanaman Cepat pada Area Luas dan Sulit Terjangkau
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Hydroseeding berasal dari dua kata, yakni hydro dan seeding yang berarti campuran antara air dan benih. Benih yang dimaksud adalah benih dalam bentuk biji.

Air dan benih tersebut dikombinasikan sedimikian rupa dengan bahan lain sehingga tercipta formula yang berguna dalam revegetasi pada lahan yang rusak.

Teknik ini memacu perkecambahan biji lebi cepat, penutupan tanah yang lebih luas dan mampu mengurangi atau meminimalisir ancaman erosi tanah.

(Pratama, 2016) menerangkan, hydroseeding adalah  metode penanaman dengan cara mencampurkan biji benih tanaman dan nutrien yang diformulasikan khusus dicampur dan diaduk sedemikian rupa di dalam tank hydroseeding bersama dengan media air, sehingga campuran menjadi homogen, selanjutnya campuran tersebut ditebarkan di permukaan lahan yang terganggu.

Setelah tercampur, larutan ini diangkut dalam sebuah tangki yang ditempatkan di atas truk atau trailer dan siap disemprotkan di atas tanah dengan lapisan yang relatif rata dan seragam.

Salah satu bahan dalam campuran ini, yaitu mulsa. Mulsa ini akan membantu menutup tanah dan mempertahankan tingkat kelembapan bagi tanah dan benih atau biji.

Sejarah singkat hydroseeding

Menurut beberap sumber, teknik hydroseeding ini berawal dari Amerika Serikat. Penerapannya merupakan solusi atas penanaman secara manual yang memakan waktu sangat lama dalam proses penanaman tumbuhan yang umumnya dilakukan pada areal lahan yang luas.

Teknik hydroseeding ini terus berkembang hingga sampai di dataran Inggris pada awal tahun 1960 dan menyebar di Eropa secara cepat.

Saat ini hydroseeding umumnya dilakukan pada areal lahan bekas pertambangan. Area ini mempunyai lapisan top soil yang buruk. Karena kekurangan kandungan unsur hara sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman maupun pada areal dengan kemiringan atau kecuraman. Baik itu kemiringan sedang sampai ekstrim. Area ini menghadapi risiko erosi dan sedimentasi tanah.

Meski begitu, penggunaannya bisa di mana saja, khususnya pada area yang sulit dijangkau manusia, misalnya area tebing atau curam. Pengaplikasian hydroseeding juga dapat diterapkan pada area hutan yang sudah terbakar.

Di Indonesia penggunaan hydroseeding sesuai dengan peraturan Menteri ESDM No. 28 Tahun 2009 tentang Hydroseeding sebagai Metode Revegetasi, serta Menteri Kehutanan RI No. P-4.MenHut-II/2011 yang mengatur tentang Pedoman Reklamasi Hutan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2