Penyuluh, Petani, dan Fusarium: Pertarungan untuk Jahe Barugae

Klikhijau.com - Hari itu, Rabu (2/7/2025), langit Maros cerah membahana. Awal Juli yang syahdu. Awal Juli yang seharusnya telah membara dengan kemarau namun Ilahi masih menganugerahi hujan sebagai ber...

Penyuluh, Petani, dan Fusarium: Pertarungan untuk Jahe Barugae
Bacakan Artikel

[caption id="attachment_33601" align="aligncenter" width="1140"] Seorang penyuluh kehutanan yang sedang mengecek jahe yang terserang penyakit fusarium-foto/Ist[/caption]

Memanfaatkan potensi sumber daya Barague

Siang itu, Haris Said, Arini P. Lestari, dan Syamsir Upe, tiba di Barugae. Tak lama kemudian Ismail, personil Resor Mallawa turut menemani ketiganya. Nurlaela, Ketua KWTH Semangat Baruga menyambutnya. Tujuh anggota kelompok lainnya pun turut berdiskusi di sekretariat kelompok. Sekretariat yang berada di belakang kantor desa.

Arini kemudian membuka percakapan santai mereka. Menyampaikan maksud kedatangan mereka berempat. Nurlaela pun menyambutnya.

"Kehadiran kami di sini, hendak memonitor perkembangan kelompok. Hendak mengetahui perkembangan dan tantangan yang sedang kelompok hadapi saat ini," pungkas Arini.

Sang ketua kelompok kemudian bercerita panjang lebar. Menyampaikan perkembangan pemasaran produk  kelompok. Hingga kemudian diskusi mengalir begitu saja.

"Saat ini, pemasaran produk cukup baik. Apalagi BUMDES Desa Barugae membantu kami memasarkannya," kata Nurlaela.

Tak hanya itu, ibu dua anak ini juga menyampaikan bahwa selain jahe instan, kelompoknya juga ciptakan produk lainnya, berupa kopi jahe.

Produk tersebut mereka ciptakan dengan memanfaatkan potensi sumber daya di Barague. Dahulu, hanya tersedia jahe instan dengan menggunakan gula pasir sebagai pemanisnya, kini juga tersedia jahe dengan campuran gula aren. Pun sama, gula aren di desa yang terletak di Kecamatan Mallawa ini memiliki aren yang cukup melimpah.

"Bagaimana dengan proses produksi jahe instannya? Apakah ada kendala yang dihadapi petani jahe di sini?" Haris yang sedari tadi hanya menyimak angkat suara.

Ketua kelompok yang pernah diundang Balai Taman Nasional Tambora, Mataram sebagai narasumber ini kemudian menceritakan penyakit yang dihadapi para petani.

"Beberapa petani di Barugae akhir-akhir ini gagal panen. Jahe mereka terkena penyakit layu," jawabnya.

Jahe menjadi kisut

Nurlela mendeskripsikan ciri-ciri jahe yang terserang penyakit ini. Daun-daun jahe mulanya menguning kemudian lama-kelaman layu, pada akhirnya mengering. Mati.

"Bagaimana dengan rimpang jahenya?" Haris kembali bertanya ringkas.

Menurut Nurlaela, jahe-jahe yang terserang penyakit ini menjadi kisut. Tidak berisi.

Haris kemudian menerangkan bahwa kemungkinan besar jahe tersebut terserang penyakit layu. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium.

Menurut Sari dan Wijaya (2018), jamur Fusarium oxysporum hidup dalam tanah dan mampu bertahan tanpa inang dalam waktu yang cukup lama. Jamur ini menyebar melalui tanah yang terinfeksi, alat pertanian yang tidak steril, atau bahkan melalui bibit yang terkontaminasi.

Karena itu Haris berpesan kepada ketua kelompok tani untuk segera menangani kesulitan petani ini. Mengingat produksi pruduk jahe instan kelompok juga bergantung dari ketersediaan bahan bakunya.

Menurut Haris, ada dua metode yang bisa ditempuh untuk menangani penyakit layu fusarium ini. Pertama, teknik kimiawi yakni dengan merendam fungisida, salah satu fungisida yang bisa dipakai merendam yaitu fungisida Antracol pada bibit yang hendak petani tanam. Merendamnya sekitar 5-8 jam. Juga penting memastikan bibit tersebut bebas dari jamur merugikan tersebut.

Kedua, metode organik, yakni dengan pemberian jamur Tricohoderma. Jamur yang mampu menghambat pertumbuhan jamur Fusarium. Caranya, dengan mencampurkan jamur baik ini dengan pupuk kompos dan menaburnya pada setiap tanaman jahe.

"Selain itu, penting juga agar memperbaiki drainase agar jahe bisa tumbuh dengan baik," tambahnya.

Meski ada dua cara yang bisa petani tempuh untuk memulihkan tanaman budidayanya, namun Haris menyarankan untuk menggunakan kedua teknik tersebut.

"Ini tak mudah, namun untuk memulihkan kembali lahan mereka, tak ada cara lain," tegasnya.

Penyuluh kehutanan ahli pertama ini, yakin betul dengan bahwa jahe Barugae  terserang Fusarium. Hal ini ia simpulkan setelah meninjau langsung beberapa kebun jahe di sana keesokan harinya. Memeriksa daun dan rimpang jahenya.

Petugas taman nasional ini rela bolak balik selama dua hari untuk memastikan jenis penyakit yang menimpa tanaman budidaya andalan Barugae ini. Padahal jarak antara Bantimurung dan Mallawa cukup jauh.

Setidaknya mereka harus menempuh perjalanan selama dua jam dengan kendaraan roda dua untuk menjangkau desa terpencil ini. Desa yang berada di tepian hutan taman nasional. Semuanya mereka lakukan untuk kemajuan warga binaannya.

Kini pilihan kesembuhan jahe mereka ada di tangan petani. Mereka harus berkorban dan konsisten memberantas penyakit yang ampuh menggagalkan panen mereka.

Selama berjuang pak tani, semoga usahamu membuahkan hasil. Berjuang demi kesejahteraan keluarga dan kemajuan bersama warga Barugae.

Sumber

Sari, M. D., & Wijaya, A. (2018). Infeksi Fusarium oxysporum pada Bawang Merah dan Dampaknya terhadap Kualitas Umbi. Jurnal Tanaman Hortikultura, 22(4), 201-208.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2