Mengenai Tungau dan Dampak yang Ditimbulkan Setelah Menyingkirkannya

Klikhijau.com – Begitu masuk, gumpalan debu di teras rumah menyambut saya sore kemarin. Wajar saja begitu, sebab telah hitungan minggu tak dibersihkan karena ditinggal mudik lebaran. Ketika saya membu...

Mengenai Tungau dan Dampak yang Ditimbulkan Setelah Menyingkirkannya
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Namun, rupanya setelah berhasil menyingkirkannya dari tempat tidur,  ia dapat memberi hadiah perpisahan yang tetap merugikan manusia.

Bahkan menurut penelitian terbaru, ternyata kotoran serangga tersebut mengandung sisa bahan kimia yang digunakan untuk memusnahkannya. Sisa bahan kimia ini membuat histamin atau zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi seperti ruam dan masalah pernapasan.

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di North Carolina State University, AS ini menyebut bahwa tingkat histamin dari kotoran tungau dapat tetap tinggi selama berbulan-bulan ada di rumah yang dibersihkan dengan baik.

"Kutu kasur biasanya hanya dianggap sebagai hama pengganggu, dengan kaliber medis terbatas karena hewan ini tak diketahui bisa menyebarkan penyakit," ungkap Zachary DeVries, penulis penelitian ini dikutip dari Newsweek.

"Temuan kami menentang kepercayaan ini," imbuh peneliti post-doctoral di North Carolina State University tersebut. Untuk mendapat temuan ini, DeVries dan koleganya mengumpulkan debu dari 140 apartemen yang berada di gedung yang sama.

Gedung ini diketahui penuh dengan tungau meski sudah dilakukan pengendalian hama. Selanjutnya, para peneliti mengumpulkan sampel lain dari 5 rumah lain yang dianggap bebas hama. Rumah-rumah tersebut berjarak 8 kilometer dari gedung apartemen pertama.

Mereka juga mengukur tingkat debu baik sebelum dan sesudah perusahaan pengendali hama melakukan semprotan insektisida dan perawatan panas untuk membasmi serangga ini.  Dari hal tersebut, para peneliti menemukan berbagai zat di dalam debu, mulai dari serbuk sari, kulit manusia, hingga bakteri.

Selanjutnya, para ilmuwan secara khusus menganalisis tingkat histamin yang timbul. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One ini menemukan bahwa tingkat histamin tertinggi terdapat di apartemen yang dipenuhi dengan tungau.

"Tingkat histamin di tempat tidur yang dipenuhi serangga setidaknya 20 kali lebih tinggi daripada rumah tanpa tungau," ujar DeVries.

"Kita harus berhati-hati karena tidak diketahui bagaimana paparan histamin lingkungan mempengaruhi manusia," imbuh DeVries.

DeVries mengakui bahwa temuannya mengubah cara pikir manusia tentang kutu busuk.

"Jika histamin memiliki efek medis, baik sendiri atau dikombinasikan dengan alergen lainnya, ini benar-benar bisa mengubah cara kita melihat tungau dan bagaimana kita mengendalikannya," kata DeVries.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2