Kurban Asik Minim Sampah Plastik, Apa Bisa?

Klikhijau.com – Hari raya Iduladha identik dengan daging kurban dan sampah plastik. Setiap tahunnya, serbuan sampah kantong plastik seolah menjadi sisi lain dari kegembiraan iduladha. Akankah kita dap...

Kurban Asik Minim Sampah Plastik, Apa Bisa?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Hari raya Iduladha identik dengan daging kurban dan sampah plastik. Setiap tahunnya, serbuan sampah kantong plastik seolah menjadi sisi lain dari kegembiraan iduladha. Akankah kita dapat menjalani iduladha yang minim sampah plastik?

Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dompet Dhuafa Volunteer, Belantara Foundation, Kolaborasi Masjid Pemberdaya (KMP), Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi (KFLHK), Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat (LLHPB PP) ‘Aisyiyah, Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (IDKP) menyelenggarakan webinar diskusi publik dengan tema “Gerakan Upaya Pengurangan Sampah Plastik di Momentum Iduladha” secara daring pada Selasa (27/06/2023).

Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan penyadartahuan dan edukasi serta mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai pada saat Iduladha. Webinar ini merupakan salah satu bentuk gerakan kampanye kurban asik tanpa sampah plastik.

Secara global, United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan pada 2040 akan ada 29 juta ton plastik masuk ke ekosistem perairan dunia, termasuk laut.

Sampah plastik tersebut sebagian besar berasal dari sumber polusi darat yang tidak terkelola dengan baik. Prediksi ini dibuat dengan asumsi tidak ada upaya lain dari apa yang terjadi saat ini atau Business As Usual.

Pada tingkat nasional, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, Indonesia menghasilkan sekitar 68,5 juta ton sampah pada 2022. Sekitar 18,5% di antaranya berupa sampah plastik.

Hal ini disebabkan oleh pergeseran pola hidup dan pola konsumsi masyarakat dalam menggunakan plastik sekali pakai termasuk saat Iduladha.

Sampah plastik mampu mencemari laut. Selain banyaknya kasus dimana banyaknya biota laut yang mati akibat mengonsumsi plastik, plastik juga dapat mengganggu rantai makanan yang ada di laut.

Hal ini terbukti pada 2018, plastik ditemukan dalam tubuh banyak organisme, mulai dari bangkai penyu, paus sperma, bayi anjing laut, lobster, hingga paus biru yang menurut pengamat telah mengonsumsi sekitar 43 kg mikroplastik perhari, serta banyak biota laut lainnya dengan organ dalam yang sudah banyak tercemar oleh sampah plastik.

[caption id="attachment_28724" align="alignnone" width="746"] Masyarakat kurban ramah lingkungan tahun lalu di Sumbar - Foto: Ist[/caption]

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2