Cerita dari Markas Manggala Agni dan Hal Lain Dibalik ‘Writing Camp’

Klikhijau.com – Cerita-cerita dibalik kegembiraan kegiatan “writing camp” yang digelar Klikhijau pada 23-24 Juni 2023 memang tiada habisnya. Peserta sangat menikmati pembelajaran lapangan, pengenalan...

Cerita dari Markas Manggala Agni dan Hal Lain Dibalik ‘Writing Camp’
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Cerita-cerita dibalik kegembiraan kegiatan “writing camp” yang digelar Klikhijau pada 23-24 Juni 2023 memang tiada habisnya. Peserta sangat menikmati pembelajaran lapangan, pengenalan akan ‘mindfulness’ dan trip ke air terjun parangloe.

Kali ini, saya akan coba menulis sisi lain dari kegembiraan dibalik ‘writing camp’ yakni kisah yang jarang diungkap dari Markas Manggala Agni Daerah Operasional (Daops) Gowa, tempat pelaksanaan ‘writing camp’ digelar. Dan sekelumit kisah dibalik sesi pembelajaran menulis di alam raya.

Markas yang berjarak kurang lebih 37 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin ini didiami para personil yang terjaga bila si jago merah beraksi di hutan. Keterjagaan yang senantiasa siap mengisi penampungan air, menginjak pedal gas armada tempur, hingga mental yang tak gentar siap berhadapan memadamkan gejolak nyala si jago merah yang seringkali merambah begitu cepat.

Manggala Agni Daops Gowa dibawah naungan Balai Pengendalian Perubahan Iklim (BPPI) Wilayah Sulawesi terhampar rerumputan hijau yang diantaranya berbaris varian tanaman seperti rambutan dan mangga dengan berbagai varietas unggulan. Tanaman itu berjejer rapi dan subur berkat tangan dingin personil Manggala Agni yang menghabiskan waktu di markas.

Meski tak banyak terdokumentasi, namun penjajakan melalui diskusi ringan bersama Kepala Daops, Ishak Andi Kunna, menceritakan beberapa kejadian yang cukup ekstrim untuk kita yang baru mendengarnya.

“Kalau teman-teman itu khususnya di musim kemarau kesiap-siagaannya meningkat, karena potensi kebakaran hutan tinggi,” singkat Ishak, sapaan akrabnya.

Pertukaran shift dilakukan sekali seminggu untuk jadwal piket, kemarau yang biasanya dimulai akhir April hingga awal September menjadi rentan ketegangan.

“Teman-teman di sini sudah cukup hapal, bahkan terhadap saya pribadi yang sering begitu berambisi hingga letupan amarah meledak di beberapa kejadian, seperti di kejadian kebakaran TPA Tamangapa, kita turut diterjunkan,” jelasnya.

Berbagai tantangan cukup beragam, insiden di malam hari dengan titik yang jauh dari area pemukiman mengandalkan pencahayaan yang dimiliki personil dan pertaruhan menjaga ketersediaan air, tentu menguras banyak hal dari waktu, tenaga dan segala kemampuan para pengendali api.

“Secara mental alhamdulillah teman-teman cukup terlatih, sehingga se-krusial apapun pasukan tetap mengupayakan yang terbaik melakukan koordinasi, memanajemen teknis lapangan untuk dapat memadamkan, kejadian lain pun tak terelakkan seperti armada yang terbalik, hingga personil yang cedera,” urainya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2