Kembalinya Ingatan pada Sensasi Tanaman Obat dan Kenangan Kampung

Klikhijau.com – Di tengah situasi yang sulit karena pandemi Covid-19, semangat untuk “back to nature” juga semakin membuncah. Lihat saja, ada begitu banyak kawan yang akhir-akhir ini semakin akrab den...

Kembalinya Ingatan pada Sensasi Tanaman Obat dan Kenangan Kampung
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Di tengah situasi yang sulit karena pandemi Covid-19, semangat untuk “back to nature” juga semakin membuncah. Lihat saja, ada begitu banyak kawan yang akhir-akhir ini semakin akrab dengan tanaman herbal seperti jahe, kunyit, serai, hingga daun sirsak.

Bahkan pada segala hal yang berlabel alami kini jadi idaman. Mulai dari kebiasaan sarapan jagung rebus, pisang rebus hingga sayur daun kelor.

“Ini sisi positif dari pandemi! Semua orang mulai sadar betapa pentingnya makanan sehat dan pola hidup sehat,” kata seorang kawan.

Di sisi lain, semakin banyak orang yang mulai menjauh dari kebiasaan konsumsi makanan instan. Umumnya mereka mulai percaya bahwa makanan instan adalah sumber dari bergelimangannya ragam penyakit mematikan.

Orang-orang mendambakan makanan dan minuman yang serba alami. Kawan saya yang lain juga bercerita bagaimana ia dan keluarganya mulai enggan konsumsi gula pasir, minyak sawit dan mulai berjuang untuk minim konsumsi nasi putih.

Kenangan pada yang alami

Saya mengecek ke sepuluh orang yang respek pada situasi pandemi, sembilan diantaranya benar-benar ingin konsisten menerapkan gaya hidup sehat. Ketika ditanya alasannya mengapa, beberapa diantaranya berkisah tentang kenangan.

Ini menarik sekali, rupanya sebagian besar diantara kita punya kisah-kisah yang begitu intim dengan rempah, herbal dan tanaman obat. Bagi generasi 80-an dan 90-an yang pernah melewati masa-masa kecil di kampung, ingatan itu amatlah membekas.

Masih ingat dengan terang, bagaimana cocor bebek menemani saat-saat demam tinggi di masa kecil. Tak ada paracetamol atau antibiotik, demam luruh dan tubuh sehat bugar lagi setelah beberapa hari.

Ingatan tentang rebusan pucuk daun papaya juga tentu membekas saat demam tinggi di masa kanak-kanak. Ramuan khas kampung ini rasanya lumayan menyebalkan karena super pahit, tetapi kerapkali ampuh menjadi penawar demam tinggi dan sakit tulang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2