Hilangnya Keanekaragaman Hayati Jadi Penyebab Wabah Penyakit Menular?

Klikhijau.com – Kehilangan keanekaragaman hayat akan jadi kerugian besar. Harus dijujuri, keanekaragaman hayati telah membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Karena itu, dengan kehilangannya bukan...

Hilangnya Keanekaragaman Hayati Jadi Penyebab Wabah Penyakit Menular?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Kehilangan keanekaragaman hayat akan jadi kerugian besar. Harus dijujuri, keanekaragaman hayati telah membawa kesejahteraan bagi umat manusia.

Karena itu, dengan kehilangannya bukan hanya kita akan kehilangan mata pencaharian dan sumber kehidupan. Lebih dari itu, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati jadi biang kerok terbesar wabah penyakit menular.

Penyakit menular yang disebabkan oleh hilangnya keanekaragaman hayati diklaim oleh peneliti akan membuat penyakit  ini lebih berbahaya dan menyebar luas

Kita tentu masih ingat pandemi Covid-19 yang menerjang dunia. Pandemi tersebut diyakini berasal dari satwa liar kelelawar. Dan menurut peneliti penyakit menular baru sedang meningkat dan sering kali berasal dari satwa liar.

Dilansir dari The Guardian, dalam meta-analisis yang dipublikasikan di jurnal Nature, para peneliti menemukan bahwa dari semua pendorong perubahan global yang menghancurkan ekosistem, hilangnya spesies adalah penyebab terbesar yang meningkatkan risiko wabah. Hilangnya keanekaragaman hayati diikuti oleh perubahan iklim dan masuknya spesies asing.

Ketua peneliti Prof Jason Rohr dari Universitas Notre Dame di AS mengatakan, pesan yang dapat diambil adalah hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan spesies pendatang meningkatkan penyakit, sedangkan urbanisasi menurunkannya.

Para ahli menganalisis hampir 1.000 penelitian tentang faktor lingkungan global yang menyebabkan penyakit menular, yang mencakup semua benua kecuali Antartika. Mereka mengamati tingkat keparahan dan prevalensi penyakit pada tumbuhan, hewan, dan manusia.

Lima pendorong perubahan global

Untuk menemukan hasil tersebut, tim ini berfokus pada lima pendorong perubahan global – hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, polusi bahan kimia, spesies non-asli, dan hilangnya habitat.

Tim peneliti  menemukan empat dari lima peningkatan penyebaran penyakit: semuanya kecuali hilangnya habitat mengalami peningkatan penyakit. Hasilnya sama pada penyakit manusia dan non-manusia.

Perubahan habitat mengurangi risiko karena kecenderungan manusia berpindah ke tipe habitat tertentu, yakni kota. Daerah perkotaan cenderung memiliki lebih sedikit penyakit, hal ini disebabkan karena sanitasi umum yang lebih baik dan juga karena jumlah satwa liar yang lebih sedikit.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2