Gotong Royong di World Cleanup Day, Cara Warga Makassar Merawat Kota dari Pesisir

Klikhijau.com -  Udara Makassar terasa lebih segar dari biasanya di hari Sabtu pagi, 20 September 2025.  Sinar matahari mengintip di ufuk timur, memanja di permukaan laut yang tenang. Pesisir Tanjung...

Gotong Royong  di World Cleanup Day, Cara Warga Makassar Merawat Kota dari Pesisir
Bacakan Artikel

Klikhijau.com -  Udara Makassar terasa lebih segar dari biasanya di hari Sabtu pagi, 20 September 2025.  Sinar matahari mengintip di ufuk timur, memanja di permukaan laut yang tenang. Pesisir Tanjung Biru menuju Tanjung Bunga disesaki manusia. Bukan untuk berwisata, melainkan untuk sebuah misi--membersihkan kota mereka.

Di antara kerumunan itu, suasana penuh semangat bercampur dengan keriuhan khas kerja bakti. Ada yang membawa karung beras bekas untuk menampung sampah, ada yang datang dengan sarung tangan sederhana, ada pula yang hanya bermodal tangan kosong. Namun satu hal yang sama: mereka datang dengan niat tulus menjaga lingkungan.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, tampak berjalan menyusuri pantai. Kemeja putihnya mulai basah oleh keringat, tapi tangannya tetap cekatan memungut plastik yang berserakan di pasir. Ia sesekali berhenti, menyapa warga, atau memberi semangat kepada kelompok anak muda yang sibuk mengisi karung dengan botol bekas.

“Ini bukan sekadar bersih-bersih. Ini cara kita menghormati alam yang memberi kehidupan,” katanya dengan suara tegas namun bersahabat.

Senyumnya menular. Warga yang melihat tak segan ikut membungkuk, mengambil sampah di dekat kakinya. Di momen itu, batas antara pemimpin dan warga seolah hilang semua menjadi sama, sama-sama pemilik kota.

Tak jauh dari sana, Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham terlihat jongkok di antara bebatuan. Tangannya meraih botol plastik yang hampir tertimbun pasir. Seorang ibu rumah tangga, Ramlah, mendekat sambil membawa anak balitanya.

“Kalau pejabat mau ikut kotor begini, rasanya malu kalau kita diam saja,” katanya sambil tersenyum.

Aliyah membalas dengan hangat. “Kebersihan itu bukan tanggung jawab pemerintah saja, Bu. Kita semua harus jaga, untuk anak-anak kita nanti,” ujarnya. Ramlah mengangguk, lalu menggandeng tangan kecil anaknya agar ikut memungut sampah.

Daeng Naba dan jaringnya

Di ujung pantai, seorang lelaki tua dengan kulit legam karena terbakar matahari tampak mengangkat jaring bekas yang terdampar. Namanya Daeng Naba, seorang nelayan yang tinggal tak jauh dari lokasi. Dengan napas tersengal, ia berkata, “Sampah di laut ini sering merusak jaring saya. Kalau laut bersih, hidup kami juga lebih ringan. Jadi saya ikut saja, meski sudah tua.”

Mata Daeng Naba berbinar ketika melihat sekelompok siswa SMA ikut membantu menarik ban bekas yang setengah terkubur di pasir. Baginya, kehadiran anak-anak muda adalah harapan. Harapan bahwa kebersihan laut, yang menjadi sumber kehidupannya, tidak akan punah ditelan zaman.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah dasar juga ikut memeriahkan. Dengan seragam olahraga yang sudah penuh noda pasir, mereka berlarian sambil berteriak kegirangan setiap kali menemukan sampah baru. Ketua TP PKK Makassar, Melinda Aksa, terlihat mendampingi mereka, mengajarkan cara memilah sampah plastik dari daun kering.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2