Energi Terbarukan di Indonesia yang Tertinggal dan Jalan di Tempat?

Klikhijau.com - Energi Terbarukan telah digembar-gemborkan dalam waktu belakangan ini. Berbagai macam sumber daya alternatif dikerahkan untuk mendukung program Energi Baru Terbarukan (EBT). Beragam...

Energi Terbarukan di Indonesia yang Tertinggal dan Jalan di Tempat?
Bacakan Artikel

Dia dan rekan-rekannya telah melakukan percobaan menghasilkan listrik dari tenaga kentang. Umbi super yang bisa bertahan lama ini ternyata mampu menjadi penghasil energi yang baik.

Rabinowitch mengatakan dalam sebutir kentang, energi yang dihasilkan setara dapat memberi penerangan satu kamar selama 40 hari menggunakan lampu LED.

Caranya dengan menancapkan sepasang plat logam (katoda dan anoda), kabel, dan lampu LED ke sebutir kentang. Plat logam yang bisa digunakan yaitu seng (elektroda negatif) dan tembaga (elektroda positif). Asam yang terkandung dalam kentang bisa menghasilkan reaksi kimia dan aliran elektron yang menimbulkan listrik.

[irp]

Penelitian ini langka karena belum ada yang meneliti kentang sebagai sumber energi secara ilmiah. Dari 20 jenis kentang yang diteliti, Rabinowitch dan rekan-rekan menemukan ketika kentang direbus selama delapan menit, gerakan elektron lebih bisa bebas sehingga energi yang ditimbulkan lebih banyak.

Meski masih tergolong sebagai energi listrik bertegangan rendah, tapi energi yang dihasilkan dari kentang bisa mengisi ponsel atau laptop pada daerah yang tak memiliki saluran listrik.

Secara praktis tentu sangat bermanfaat bagi penerangan desa-desa terpencil yang ada di dunia. Harganya pun lebih ekonomis, lebih murah dibandingkan dengan satu baterai 1,5 volt AA Alkaline dan lebih murah dibanding lampu minyak tanah.

Kentang ini tentu bisa menjadi alternatif energi yang menjanjikan. Sayangnya, jenis energi terbarukan ini tak berkembang?

Salah satunya disebabkan, beberapa alasannya Badan PBB untuk Makanan dan Pertanian (FAO) mempersoalkan menjadikan makanan sebagai sumber energi. Tak hanya pada kentang, tapi juga makanan lain seperti tebu. Sebab menggunakan makanan bisa menipiskan simpanan dari bahan makanan tersebut.

[irp]

[irp]

Mencontoh Tiongkok

Untuk mengejar ketertinggalan, Indonesia bisa menengok Tiongkok terkait bagaimana negeri tirai bambu ini membangun infrastruktur sumber energi alternatif secara besar-besaran. Khususnya untuk menunjang sektor-sektor yang bersifat keseharian dengan memanfaatkan tenaga matahari, angin, panas, hingga limbah hijau.

Sebagaimana ditulis Tirto sebagaimana dilaporkan Reuters, pemerintah Tiongkok menggelontorkan dana sebesar $361 miliar guna membangun dan mengembangkan infrastruktur energi terbarukan yang ditargetkan selesai tahun ini, 2020. Ini menunjukkan Tiongkok memang serius dalam menggarap energi terbarukan dan memberi listrik bagi rakyat.

Di bidang listrik fotovoltaik yang merupakan penerapan dari teknologi panel surya dengan fungsinya mengubah sinar matahari menjadi listrik, Tiongkok menjadi negara yang menghasilkan listrik fotovoltaik terbesar dunia pada 2015.

Besarnya atau kapasitas listrik yang dihasilkan sebesar 43 gigawatt. Energi fotovoltaik ini memang menjadi penghasil energi terbarukan terbesar dibanding energi lain. Panel-panel surya dipasang hingga daerah terpencil.

Hal yang perlu digarisbawahi, kunci dari pengembangan energi alternatif adalah pemahaman dan penguasaan terhadap teknologi terlebih dahulu untuk jangka panjang, dibandingkan keder terlebih dahulu terkait teknologi tingkat tinggi.

Untuk teknologi seseorang bisa belajar atau mencontoh darimana saja, tapi soal pemahaman dan skill menggunakan teknologi tersebut harus diutamakan.

[irp]

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2