Energi Terbarukan di Indonesia yang Tertinggal dan Jalan di Tempat?

Klikhijau.com - Energi Terbarukan telah digembar-gemborkan dalam waktu belakangan ini. Berbagai macam sumber daya alternatif dikerahkan untuk mendukung program Energi Baru Terbarukan (EBT). Beragam...

Energi Terbarukan di Indonesia yang Tertinggal dan Jalan di Tempat?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Energi Terbarukan telah digembar-gemborkan dalam waktu belakangan ini. Berbagai macam sumber daya alternatif dikerahkan untuk mendukung program Energi Baru Terbarukan (EBT).

Beragam langkah yang dirasa tepat juga telah dipersiapkan terutama untuk program energi alternatif di bidang kelistrikan, pangan, hingga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Energi terbarukan di Indonesia

Energi fosil yang dijadikan tumpuan masa kini dengan sifatnya yang tak bisa diperbaharui diprediksi dalam kurun waktu tertentu akan habis. Sehingga solusi menggunakan energi alternatif tak bisa dielakkan.

Di Indonesia, energi terbarukan juga mulai dikembangkan lewat pemanfaatan energi-energi alternatif. Dari tenaga surya lewat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Nusa Tenggara Timur; tenaga angin lewat proyek pembangkit listrik tenaga bayu di Sulawesi Selatan; juga sumber lainnya seperti panas bumi.

[irp]

Meski begitu, posisi Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan EBT. Hal ini diungkapkan oleh anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldi Dalimi.

Dia mengatakan jika dunia sudah memasuki energi terbarukan, jika Indonesia masih “tertidur” dan “tak melakukan apa-apa”, maka Indonesia akan hanya jadi “pasar”. Padahal sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia sangat berlimpah, dari matahari, air, panas bumi, hingga angin.

Semisal saat ini tengah berkembang teknologi biofuel (bahan bakar hayati) yang menggantikan fungsi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik. Biofuel dipercaya tidak hanya ramah lingkungan karena tingkat emisi yang rendah, tapi budidayanya juga mudah dilakukan.

Beberapa jenis tanaman yang sudah diteliti, termasuk tanaman kepuh (Sterculia foetida) atau tanaman Genderuwo, kelapa sawit, minyak kelapa, dan kentang.

Harga yang dipatok oleh energi alternatif ini juga lebih terjangkau bagi masyarakat. Semisal untuk biofuel tanaman genderuwo yang diuji coba oleh Dosen Fakultas Pertanian Universitas Negeri Semarang Endang Yuniastuti, harga biofuel kurang dari Rp 3 ribu per liter (laporan 2013). Bandingkan dengan harga solar yang bisa mencapai beberapa kali lipatnya.

[irp]

Banyak Pilihan Bahan Alternatif, Kentang Salah Satunya

Percobaan untuk umbi dan tanaman-tanaman lain dalam upaya mencari energi terbarukan juga telah diteliti oleh para peneliti di berbagai dunia. Salah satunya dilakukan oleh peneliti dari Hebrew University of Jerusalem bernama Rabinowitch.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2